RISMA TEST CASE DEMOKRASI TERPIMPINNYA PDIP
Ahmad Basarah mau mengembalikan demokrasi terpimpin ketika ia mengatakan bahwa apa yang dilakukan kader-kader PDIP seperti Jokowi dan Risma yang menunggu dawuh ketua Umum ketika memutuskan maju atau tidak sebagai kepala Daerah.
Tanggapan
itu diberikan Ahmad Basarah berkaitan dengan ucapan Risma yang
mengatakan bahwa kalau disuruh memilih ia lebih memilih Surabaya daripada ke
Jakarta. Ini persis ketika Jokowi
sering menjawab ndak mikir ketika mau
dicalonkan sebagai gubernur DKI dan akhirnya jadi juga dicalonkan. Basarah
yakin, Risma juga akan melakukan hal yang sama. Dan mimpi PDIP akan happy
ending dalam memilih pemimpin, sepertinya dirindukan untuk dapat diulangi. Pada
waktunya Risma akan mengatakan sendiko dawuh.
Tetapi begitu lamanya PDIP memutuskan
menunjukkan bahwa ada sesutu yang dipikirkan PDIP. Dan banyak yang berpendapat,
kesulitan muncul antara memilih Ahok atau tidak Ahok. Banyak kader PDIP sudah memutuskan bahwa Ahok tidak lagi diberi
tempat. Mereka selau mengatakan bahwa
ada aspirasi yang berkembang bahwa mereka lebih memilih Risma. Nama Risma juga
mempersatukan tujuh partai yang disebutnya koalisi kekeluargaan.
Ya tanpa
Risma ketujuh partai mempunyai kesulitan untuk mempertemukan
kepentingan. Hanta Yudha, pengamat politik, mengatakan
bahwa ada setidaknya empat alasan
partai-partai dengan platform yang tidak sama itu untuk bersatu. Yang pertama,
adalah kesamaan ideologi tampaknya ini yang terjadi kesulitan, bagaimana
PKS dan PDIP terkenal sulit bersatu
dalam perkara ini jadi tentu alasan ini sulit menjadi faktor pemersatu, kedua :
Kedekatan Tokoh. Ini juga sulit bagaimana
seorang Megawati harus bertemu SBY. Ketiga, alasan teknis, yaitu persyaratan
pencalonan yaitu 20 persen rasanya juga bukan, karena dari PDIP sendiri sudah
terpenuhi. Keempat, Figur tampaknya alasan yang paling masuk akal.
Oleh karenanya partai-partai itu sangat
berkepentingan untuk membawa Risma
ke Jakarta, tanpa itu koalisi mudah
goyah. Apalagi risma punya persyaratan untuk melawan Ahok. Yaitu tegas, punya
postur electoral yang punya cerita
sukses. Risma punya persyaratan ini, karena sebagai walikota Surabaya ia telah
banyak berbuat. Apalagi kalau mengacu 7 kriteria yang
dipersyaratkan 7 partai yaitu bersih , bijak, beradab, beretika, cerdas,santun.
Kriteria itu adalah anti tesa dari Ahok.
Terlihat koalisi raksasa itu sangat membenci Ahok. Dan PKS dan PPP yang berbasis Islam tentu
sangat bersyukur karena tugas mereka menjadi ringan karena bergabungnya PDIP
dan Demokrat dalam barisan mereka.
PDIP pun menjadi sekepentingan karena ingin
memberi pelajaran pada Ahok. Ahok sudah
berkali-kali mengecewakannya. Misalnya dengan
meminggirkan partai dan memilih perseorangan. Dan ketika dia memilih
partai, ia tak menunggu PDIP dan sudah
menyatakan firm dengan Nasdem, Hanura dan Golkar. Kemudian ketika bertemu
dengan lima tokoh PDIP termasuk presiden dan Megawati, tiba-tiba sehari
kemudian, ia mengeluarkan pernyataan
agar partai- partai tidak sombong. Jadi mereka berpendapat Ahoklah yang
meninggalkan PDIP bukan sebaliknya. Memang terlihat kader –kader PDIP terus
memeloti Ahok dan berusaha mencari kesalahan agar mereka mempunyai alasan untuk
meyakinkan kader PDIP yang lain agar
mereka yakin bahwa Ahok bukanlah pilihan terbaik bagi PDIP, tidak masalah kalau
mereka harus berkoalisi dengan partai partai yang secara ideologi sangat
berseberangan.
Tetapi meyakinkan kalangan PDIP sendiri juga
tidaklah mudah. Ketua DPD PDI Jatim misalnya
masih menyimpan keraguan, dia mengatakan kalau Risma maju di Pilgub DKI harus
menang. Tetapi menurut Ahmad Basarah dari DPP PDI bukanlah
kemenangan pragmatis, seperti ketika pada 2012 PDIP menolak tawaran Partai
demokrat agar PDIP menyiapkan wakil yang waktu itu ditawarkan Demokrat adalah
Adang Rukyat.
Tetapi memang Ahok dilema bagi PDIP. Ahok
terkenal dekat dengan Jokowi. Dan tampaknya Jokowi mendukung Ahok. Juga antara Ahok dan Megawati memiliki
kesamaan ideologi. Juga kalkulasi
politik lebih baik ke Ahok karena
pemilih PDIP cenderung ke Ahok. Karena Resikonya
kalau Risma kalah, maka yang akan rugi PDIP baik untuk DKI maupun Jawa Timur.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar