GOLKAR GOYAHKAN JOKOWI
Golkar tidak kuat untuk tidak berkuasa. Kalimat
itu sering terdengar, baik dari dalam
Golkar sendiri ataukah dari luar Golkar. Walau sebelumnya kukuh tak mau
masuk kabinet sebagai konsekuensi
keberadaannya di koalisi Merah Putih, koalisi yang terbentuk saat Pilpres
2014, tapi akhirnya kekukuhan Golkar
akhirnya jebol juga.
Dan teka-teki dan kesetiaan Golkar untuk
mendukung pemerintah pun terbayar lunas
dengan masuknya Airlangga Hartato ke
dalam kabinet Jokowi dan dilantik sebagai mentri perindustrian akhir Juli lalu.
Atas kenyataan itu, Ketua umum
Golkar merasa gembira. Sebetulnya ada nama lain yang diajukan
Golkar yaitu Idrus Marhan dan Siswono yudho Husodo.
Sebelumnya Golkar sebetulnya telah memiliki
kadernya di eksekutif, walau sebelumnya
tidak mendapat restu petinggi Golkar saat itu. Mereka itu adalah wakil Presiden Yusuf Kalla, Luhut
Binsar pandjaitan Menko kemaritiman, dan
Kepala Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia
( VBO 2 TKI).
Golkar mulai memutar haluan ketika Setyo Novanto mengambil alih nahkoda Golkar dari tangan Aburizal Bakri.
Golkar pun bertubi-tubi membuat Jokowi
lebih “gila” lagi, Golkar mendahului PDIP untuk “mewakafkan” dukungan kepada Jokowi
dalam Pilpres mendatang. Dalam pemilu
2019 maka terbitlah “happy ending”
setelah beberapa waktu lalu keduanya sempat resah karena kasus papa minta
saham,kini seolah Jokowi pun sudah melupakannya.
Sebelumnya Jokowi pun sudah mendekat dan
melirik Golkar. Terakhir Jokowi hadir dalam penutupan Rapimnas Golkar. Jokowi,
sadar bahwa tidak ada yang gratis di dunia ini. Jokowi harus memberi imbalan kepada partai-partai
yang telah memberikan dukungan kepadanya.
Itu pulalah yang juga dilakukan Jokowi
kepada PAN. Wakil ketua umumnya, yang sebelumnya anggota DPRRI, kini
menjabat Mentri Pendayagunaan aparatur
Negara dan reformasi birokrasi.
Akhirnya toh Jokowi pun goyah juga, iapun
akhirnya harus tunduk pada realitas. Dulu ia memang masih memegang prinsip
bahwa orang- orang yang dipilihnya harus
independen dan tidak dapat dipengaruhi oleh siapapun akhirnya terbukti sebaliknya Jokowi sebetulnya
sudah menunggu saat –saat pertama
pembentukan kabinet, tapi tampaknya keinginan Jokowi tak mendapat respon
dari koalisi partai – partai pendukung Prabowo.
Dan kini konsolidasi yang dilakukan Jokowi sempurna.
Kabinet hasil resuffle adalah kabinet
dengan dukungan partai-partai dan mereka yang memiliki kompeten. Dari 34
kursi,16 partai disediakan untuk partai
pendukung pemerintah..
Tidak ada komentar:
Posting Komentar