AHOK UNGGULI RISMA DAN RIDWAN DALAM HAL
KAPABILITAS
Survey yang dilakukan laboratorium Psikologi
Politik Universitas Indonesia ( LPPUI ) yang dipimpin oleh Profesor Hamdan Muluk, di Jakarta 1 Agustus 2016 Menempatkan
Gubernur Petahana Basuki Cahaya
Purnama lebih unggul dalam hal kapabilitas dan karakter personil jika
dibandingkan Tri Risma Harini walikota
Surabaya dan Ridwan Kamil, walikota Bandung, penilaian itu terutama ditekankan
pada penilaian visioner dan
intelektualitas. Baik Ahok, Ridwan dan Risma memperoleh nillai
terbaik yang dilakukan 215 pakar dalam survey yang diselenggarakan
laboratorium psikologi Politik Universitas
Indonesia, pada periode 13 Juni sampai 28 Juli 2016.
Yang dimaksud unggul dalam hal
intelektualitas disini bukan berarti kepandaian
atau kecerdasan sekolah, tapi dari sisi kemampuan menangkap masalah dan
mengimplementasikannya dalam kebijaksanaan praktis dan dalam waktu yang cepat.
Dari kategori karakter personal, Risma mendapat
penilaian terbaik di bidang integritas moral, tetapi hanya terpaut tipis dengan Basuki Cahaya Purnama di tempat
ke dua. Di Penilaian temperamen, Basuki mendapat nilai terburuk dari sembilan
lainnya. Dari Kategori ini Ridwan mendapatkan nilai terbaik.
Keunggulan Basuki yang lain, penilaian karakter
tegas dan berani yang merupakan hal penting dalam memimpin Jakarta.
Para pakar menyimpulkan bahwa hal ini disebabkan karena masyarakat Jakarta mempunyai karakter kusus yang
membutuhkan pemimpin berkarakter kusus.
Penilaian itu tidak didasarkan popularitas, sehingga tidak berubah dalam waktu yang dekat.
Tiga tokoh dengan penilaian rendah adalah Yuzril Ihza
Mahendra, Mantan menhan Safrie Sjamsoedin dan calon gubernur dari
Gerindra, Sandiago Uno, sementara Djarot sendiri memperoleh penilaian
sedang, ke 5.
Menurut
Hamdi Muluk ( Kompas, 2 Agustus
2016), Survey dilakukan guna memunculkan figur-figur terbaik untuk menguji
kandidat gubernur jakarta yang hanya populer belaka. Sementara 215 pakar
yang t erdiri dari kalangan akademisi, pengamat politik, ahli managemen
perkotaan, pers dan tokoh masyarakat, tokoh agama dan budaya, pengusaha, pemimpin organisasi
dan kemahasiswaan.
Apa yang dilakukan LPPUI pada pilkada 2012 dan
pemilu 2014. Saat itu, hasil penilaian para pakar ini bertolak belakang dengan hasil survey
yang dilakukan terhadap masyarakat, namun pemimpin terpilih sama dengan hasil
pemilihan.
Ahli perilaku politik , burhanudin menyatakan,
munculnya hasil yang mirip antara
penilaian para pakar dan tingkat keterpilihan tiga tokoh tersebut memperkuat
posisi dan pilkada 2017, tapi ia mengingatkan hal itu terjadi juga karena hanya
Basuki yang sudah mencalonkan diri.
Menarik untuk ditanyakan mengapa survey
dilakukan. Salah satu kegunaan survey adalah untuk mengukur, mengkalkulasi, dan
memprediksi calon mana yang lebih berpeluang.
Kedepan pemilu dan hasilnya dapat diukur berdasarkan data empirik,
ilmiah dan terukur.
Sementara secara internal kalau tahapan pemilu
sudah dimulai, secara internal tim sukses dapat melakukan survey, gunanya untuk
memetakan kekuatan politik, memetakan posisi kandidat, mendefinisikan mesin
politik yang efektif. Hasil survey tidak
dipandang sebelah mata, itulah yang mungkin menjadi alasan PDIP masih terus
mempertimbangkan calon mereka di pilkada DKI Jakarta.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar