Rabu, 03 Agustus 2016

AHOK UNGGULI RISMA DAN RIDWAN DALAM HAL KAPABILITAS

Survey yang dilakukan laboratorium Psikologi Politik Universitas Indonesia ( LPPUI ) yang dipimpin oleh Profesor  Hamdan Muluk, di Jakarta 1 Agustus 2016  Menempatkan   Gubernur  Petahana Basuki Cahaya Purnama lebih unggul dalam hal kapabilitas dan karakter personil jika dibandingkan Tri   Risma Harini walikota Surabaya dan Ridwan Kamil, walikota Bandung, penilaian itu terutama ditekankan pada penilaian  visioner dan intelektualitas.   Baik Ahok,  Ridwan dan Risma memperoleh nillai terbaik  yang dilakukan 215 pakar  dalam survey yang diselenggarakan laboratorium psikologi  Politik Universitas Indonesia, pada periode 13 Juni sampai 28 Juli 2016.

Yang dimaksud unggul dalam hal intelektualitas  disini bukan berarti kepandaian atau kecerdasan sekolah, tapi dari sisi kemampuan menangkap masalah dan mengimplementasikannya dalam kebijaksanaan praktis dan dalam waktu yang cepat.
Dari kategori karakter personal, Risma mendapat penilaian terbaik di bidang integritas moral, tetapi hanya terpaut  tipis dengan Basuki Cahaya Purnama di tempat ke dua. Di Penilaian temperamen, Basuki mendapat nilai terburuk dari sembilan lainnya. Dari Kategori ini Ridwan mendapatkan nilai terbaik.

Keunggulan Basuki yang lain, penilaian karakter tegas dan berani yang merupakan hal penting dalam memimpin  Jakarta.   Para pakar menyimpulkan bahwa hal ini disebabkan karena masyarakat  Jakarta mempunyai karakter kusus yang membutuhkan pemimpin berkarakter kusus.  Penilaian itu tidak didasarkan popularitas, sehingga tidak  berubah dalam waktu yang dekat.

Tiga tokoh dengan penilaian rendah adalah   Yuzril Ihza  Mahendra, Mantan menhan Safrie Sjamsoedin dan calon gubernur dari Gerindra, Sandiago Uno, sementara Djarot sendiri memperoleh penilaian sedang,  ke 5.

Menurut  Hamdi Muluk  ( Kompas, 2 Agustus 2016), Survey dilakukan guna memunculkan figur-figur terbaik untuk  menguji  kandidat gubernur jakarta yang hanya populer belaka. Sementara 215 pakar yang t erdiri dari kalangan akademisi, pengamat politik, ahli managemen perkotaan, pers dan tokoh masyarakat, tokoh agama  dan budaya, pengusaha, pemimpin organisasi dan kemahasiswaan.

Apa yang dilakukan LPPUI pada pilkada 2012 dan pemilu 2014. Saat itu, hasil penilaian para pakar  ini bertolak belakang dengan hasil survey yang dilakukan terhadap masyarakat, namun pemimpin terpilih sama dengan hasil pemilihan.

Ahli perilaku politik , burhanudin menyatakan, munculnya hasil yang mirip  antara penilaian para pakar dan tingkat keterpilihan tiga tokoh tersebut memperkuat posisi dan pilkada 2017, tapi ia mengingatkan hal itu terjadi juga karena hanya Basuki yang sudah mencalonkan diri.
Menarik untuk ditanyakan mengapa survey dilakukan. Salah satu kegunaan survey adalah untuk mengukur, mengkalkulasi, dan memprediksi calon mana yang lebih berpeluang.  Kedepan pemilu dan hasilnya dapat diukur berdasarkan data empirik, ilmiah dan  terukur.

Sementara secara internal kalau tahapan pemilu sudah dimulai, secara internal tim sukses dapat melakukan survey, gunanya untuk memetakan kekuatan politik, memetakan posisi kandidat, mendefinisikan mesin politik  yang efektif. Hasil survey tidak dipandang sebelah mata, itulah yang mungkin menjadi alasan PDIP masih terus mempertimbangkan calon mereka di pilkada DKI Jakarta.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar