Senin, 08 Agustus 2016

BEDA RISMA BEDA JOKOWI

Petinggi  PDIP tak henti membujuk  Risma agar Risma mau  mengikuti kehendak  mayoritas  penguasa PDIP  agar mau memenuhi “napsu” kekuasaan para elit  PDIP.  Aroma haus kekuasaan itu dipadu dengan perasaan sakit hati para elit PDIP, karena Ahok secara sembrono memilih jalur independen. Sakit hati bertambah parah ketiga partai teman PDIP  kemudian disusul  Golkar menyalib PDIP dengan mencalonkan Ahok sebagai gubernu r DKI Jakarta 2017-2019.

PDIP tak mungkin  mengusung calon yang diusung partai lain apalagi jika yang mengusung calon itu lebih gurem dari PDIP.

Ahok dan gaya kepemimpinannya memang tak disukai banyak elit  partai-partai politik. Ketidaksukaan itu mengkristal, ketika 7 tokoh partai  Politik  punya kesepahaman untuk mencari calon yang bisa melawan ahok, lewat pertemuan 7 parpol termasuk PDIP. Satu nama yang mereka bidik adalah Tri  Risma  Harini. Dan Risma  Harini menjadi alasan bagaimana partai yang berbeda secara ideologis itu ternya bisa memiliki kesepahaman.

Ahok yang dikeroyok oleh 7 partai itu, persis sama ketika Jokowi dikeroyok oleh koalisi gemuk. PDIP punya logika tersendiri. Ketika PDIP memboyong Jokowi ke jakarta, elektabilitas jokowi jauh di bawah incumben Fauzi Bowo. Ketika itu dari berbagai hasil jajak pendapat, Fauzi bowo diunggulkan. Tapi hasilnya sungguh di luar dugaan, sehingga sering disebut pengamat bahwa tahun 2012 disebut Anomali. Nah PDIP ingin mengulangi anomali itu, dimana jika sekarang hasil survey mengunggulkan Jokowi dibanding Risma, PDIP yakin dengan mesin politiknya yang dapat menggilas  Ahok.

Pengamat politik Ramlan Surbakti  mengingatkan bahwa ada beda antara tahun 2012 dan situasi sekarang ketika Risma didorong untuk ke Jakarta. Jokowi saat itu yang belum menyelesaikan jabatan keduanya  disambut sukacita oleh warga Solo untuk mencalonkan sebagai gubernur DKI. Sementara warga Surabaya tidak begitu merestui  Risma ke  Jakarta.  Dan setiap hari ada demo untuk mendukung Risma untuk tetap tinggal dan menjadi walikota Surabaya.

Perbedaan kedua, Jokowi pada saat itu tidak hanya didukung  2 partai saja tetapi juga didukung kaum akademisi, intelektual dan masyarakat luas.

Beda yang ketiga  pada tahun 2012 Jokowi mempunyai pasion untuk menjadi calon gubernur, sementara tidak punya pasion itu, berkali-kali dalam banyak kesempatan, Risma  akan menuntaskan dharma baktinya sampai masa jabatannya selesai. Bahkan Risma pernah berujar, diantara yang menginginkan ia ke  Jakarta, ada yang dengan tulus  mendoakan agar ia sungguh jadi gubernur DKI, tetapi ada juga  yang menginginkan agar ia segera  jauh dari Surabaya, sehingga orang lain akan mengambil keuntungan.
Menurut pengamat politik  prof Marlan  Surbakti, ia menyayangkan sikap PDIP yang seoalah-olah PDIP partai oposisi. Padahal PDIP dengan 28 kursi di DPRD DKI adalah partai pemenang. Ia dapat mencalonkan calonnya sendiri, tanpa partai lain. Dan yang harus diperhatikan, PDIP tentu tak mau membuang kesempatan di DKI dan Surabaya. Kalau  Risma kalauh di  DKI PDIP akan kehilangan  suara di dua kantong suara tersebut.

Tetapi ada celahnya dari koalisi 7 partai itu, yaitu ketika Risma tak mau dicalonkan, maka koalisi itu sungguh akan mengalami ujian.  Jangan jangan dengan menggandeng koalis besar itu adalah akal busuk PDIP agar Risma Harini menjadi yakin bahwa ia didukung banyak pihak. Soal siapa calonnya di dalam sendiri, PDIP belum bulat benar.  Ada kader yang jelas-jelas menolak Ahok tetapi ada juga yang menginginkan agar Ahok  jadi calon PDIP. Bahkan Djarot sang wakil gubernur  berkali-kali mengingatkan  agar ibu risma jangan diganggu terus menerus karna akan mengganggu konsentrasi  Risma sebagai kepala Daerah. Sekjen PDIP bahkan belum  menutup peluang Ahok dengan tiga opsinya: pertama bukan Ahok, kedua bukan Ahok  ketiga bukan  Ahok dan bukan Risma.


Jawaban terakhir  hanya ada pada Megawati. Apakah Megawati bisa memaafkan Ahok ataukah sakit hatinya terus terbawa sehingga soal pribadi menjadi soal partai. Soal pribadi itu adalah, ketidaksukaan Ahok yang lebih dahulu meninggalkannya, seperti waktu SBY maju sebagai presiden sampai sekarang tak termaafkan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar