BEDA RISMA BEDA JOKOWI
Petinggi PDIP tak henti membujuk Risma agar Risma mau mengikuti kehendak mayoritas
penguasa PDIP agar mau memenuhi “napsu”
kekuasaan para elit PDIP. Aroma haus kekuasaan itu dipadu dengan
perasaan sakit hati para elit PDIP, karena Ahok secara sembrono memilih jalur
independen. Sakit hati bertambah parah ketiga partai teman PDIP kemudian disusul Golkar menyalib PDIP dengan mencalonkan Ahok
sebagai gubernu r DKI Jakarta 2017-2019.
PDIP tak mungkin mengusung calon yang diusung partai lain
apalagi jika yang mengusung calon itu lebih gurem dari PDIP.
Ahok dan gaya kepemimpinannya memang tak
disukai banyak elit partai-partai
politik. Ketidaksukaan itu mengkristal, ketika 7 tokoh partai Politik
punya kesepahaman untuk mencari calon yang bisa melawan ahok, lewat
pertemuan 7 parpol termasuk PDIP. Satu nama yang mereka bidik adalah Tri Risma
Harini. Dan Risma Harini menjadi
alasan bagaimana partai yang berbeda secara ideologis itu ternya bisa memiliki
kesepahaman.
Ahok yang dikeroyok oleh 7 partai itu, persis
sama ketika Jokowi dikeroyok oleh koalisi gemuk. PDIP punya logika tersendiri. Ketika
PDIP memboyong Jokowi ke jakarta, elektabilitas jokowi jauh di bawah incumben
Fauzi Bowo. Ketika itu dari berbagai hasil jajak pendapat, Fauzi bowo diunggulkan.
Tapi hasilnya sungguh di luar dugaan, sehingga sering disebut pengamat bahwa
tahun 2012 disebut Anomali. Nah PDIP ingin mengulangi anomali itu, dimana jika
sekarang hasil survey mengunggulkan Jokowi dibanding Risma, PDIP yakin dengan
mesin politiknya yang dapat menggilas
Ahok.
Pengamat politik Ramlan Surbakti mengingatkan bahwa ada beda antara tahun 2012
dan situasi sekarang ketika Risma didorong untuk ke Jakarta. Jokowi saat itu
yang belum menyelesaikan jabatan keduanya
disambut sukacita oleh warga Solo untuk mencalonkan sebagai gubernur
DKI. Sementara warga Surabaya tidak begitu merestui Risma ke
Jakarta. Dan setiap hari ada demo
untuk mendukung Risma untuk tetap tinggal dan menjadi walikota Surabaya.
Perbedaan kedua, Jokowi pada saat itu tidak
hanya didukung 2 partai saja tetapi juga
didukung kaum akademisi, intelektual dan masyarakat luas.
Beda yang ketiga pada tahun 2012 Jokowi mempunyai pasion untuk
menjadi calon gubernur, sementara tidak punya pasion itu, berkali-kali dalam
banyak kesempatan, Risma akan
menuntaskan dharma baktinya sampai masa jabatannya selesai. Bahkan Risma pernah
berujar, diantara yang menginginkan ia ke
Jakarta, ada yang dengan tulus mendoakan agar ia sungguh jadi gubernur DKI,
tetapi ada juga yang menginginkan agar
ia segera jauh dari Surabaya, sehingga
orang lain akan mengambil keuntungan.
Menurut pengamat politik prof Marlan
Surbakti, ia menyayangkan sikap PDIP yang seoalah-olah PDIP partai
oposisi. Padahal PDIP dengan 28 kursi di DPRD DKI adalah partai pemenang. Ia dapat
mencalonkan calonnya sendiri, tanpa partai lain. Dan yang harus diperhatikan,
PDIP tentu tak mau membuang kesempatan di DKI dan Surabaya. Kalau Risma kalauh di DKI PDIP akan kehilangan suara di dua kantong suara tersebut.
Tetapi ada celahnya dari koalisi 7 partai itu,
yaitu ketika Risma tak mau dicalonkan, maka koalisi itu sungguh akan mengalami
ujian. Jangan jangan dengan menggandeng
koalis besar itu adalah akal busuk PDIP agar Risma Harini menjadi yakin bahwa
ia didukung banyak pihak. Soal siapa calonnya di dalam sendiri, PDIP belum
bulat benar. Ada kader yang jelas-jelas
menolak Ahok tetapi ada juga yang menginginkan agar Ahok jadi calon PDIP. Bahkan Djarot sang wakil
gubernur berkali-kali mengingatkan agar ibu risma jangan diganggu terus menerus
karna akan mengganggu konsentrasi Risma
sebagai kepala Daerah. Sekjen PDIP bahkan belum menutup peluang Ahok dengan tiga opsinya:
pertama bukan Ahok, kedua bukan Ahok
ketiga bukan Ahok dan bukan
Risma.
Jawaban terakhir hanya ada pada Megawati. Apakah Megawati bisa
memaafkan Ahok ataukah sakit hatinya terus terbawa sehingga soal pribadi
menjadi soal partai. Soal pribadi itu adalah, ketidaksukaan Ahok yang lebih
dahulu meninggalkannya, seperti waktu SBY maju sebagai presiden sampai sekarang
tak termaafkan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar