Kamis, 10 November 2016

LIMA ALASAN MENGAPA HILLARI KALAH DARI TRUMPH

ENTAH

Dunia boleh mengatakan apapun tentang Trumph tetapi atas nama Demokrasi ia telah terpilih sebagai presiden  Amerika. Orang Amerika yang tidak suka kepadanya  boleh saja marah, tapi itu tak pernah mengubah sedikitpun.

Trumph akhirnya membalikkan pendapat banyak orang bahkan pada jajak terakhir, Hillary masih dijagokan. Publik dunia tentu meratapi kemenang Donald Trumph sebagai Presiden Amerika. Wajar saja karena sebelumnya, Trumph dianggap sering mengeluarkan pernyataan yang kontroversial.

Tetai sejarah mencatat bahwa pemilihan Presiden Amerika 2016 adalah pemilihan presiden terburuk sepanjang sejarah. Bagi Hillary sendiri, wanita pertama yang menjadi calon Presiden Amerika, sekali lagi gagal memecahkan mitos bahwa Presiden Amerika hanya untuk laki-laki. Dua mitos sudah dipecahkan oleh dua presiden yakni JF Kennedy yang memecahkan mitos bahwa presiden Amerika harus orang protestan, mitos kedua yang dipecahkan adalah presiden Amerika harus kulit putih, pemecah rekor untuk yang satu ini adalah Barrack Obama. Tetapi Hillarypun setidaknya juga memecah rekor, sebagai calon presiden pertama untuk kaum perempuan.

Hillary sebetulnya digadang-gadang oleh banyak orang  tidak hanya di dalam Amerika tapi juga di luar  Amerika untuk menggantikan Barrack Obama. Atau ini mungkin merupakan ungkapan rasa frustrasi orang Amerika karena pemilihan presiden kali ini adalah pemilihan presiden yang paling “njelehi”. Rakyat Amerika dipaksa untuk memilih antara yang buruk dan yang mustahil menang. Hillary sudah dikesankan buruk dimata pemilih Amerika, bahkan kalau pemilihan pendahuluan diperpanjang, ada yang mengatakan Sanderslah sang rival utama Hillary yang akan menantang  Trumph.  Tetapi yang justru menang adalah yang mustahil menang, seperti yang dilansir Washington Post, beberapa saat setelah Trumph mendeklarasikan kemenangannya.

Bagaimana seorang yang begitu kontroversial dan dibenci oleh dunia bisa memenangkan pertarungan. Rakyat Amerika bukannya tak siap menerima presiden perempuan, tetapi karena memang Hillary dikenal busuk seperti dikatakan Paul Manafort ia juga dianggap curang, korup di Washington lebih banyak omong daripada berbuat.

Dari beberapa pendapat setidaknya ada lima penyebab Mengapa Trumph dapat membalikkan pendapat banyak orang.
Pertama, para pemilih Amerika itu rasional dan seperti yang dikatakan Spicer, para presiden Amerika adalah para pengambil resiko, Risk Taker. Barrack Obama, Bush, clinton adalah  Risk Taker. Hillary dibandingkan Trumph bukanlah seorang risk taker.

Kedua, Hillary dikenal busuk. Skandal email tak begitu saja dianggap angin lalu oleh rakyat Amerika sekalipun FBI sudah menyatakan tidak ada persoalan. Walau tidak begitu banyak tapi orang-orang brisik yang muak dengan kebusukan Hillary ada beberapa hal tapi bisa mempengaruhi banyak orang. Emily Long Worth, pemuda 25 tahun mengunggah ke Youtube ( walau akhirnya diblokir ) komentarnya Hillary itu pembohong, penipu, perempuan narsistik yang tak pantas mendapatkan apapun kecuali masuk penjara. Ditambah lagi publik belum lupa pada serangan Area diplomatik Amerika di Benghazy, Libia pada tahun 2012 ketika Hillary menjabat mentri. Belum lagi gosip bahwa ISIS itu ciptaan Barrack obama dan peristiwa 11 nopember itu dibuat pemerintah. Rakyat yang marah telah menghukum Hillary.

Ketiga, Hillary dipandang kurang otentik dibandingkan Trumph. Ucapan Trumph yang kontroversial  untuk menyetop imigran muslim mungkin bagi dunia meresahkan. Netanyahu pun mengecam. Tetapi bagi sementara pemilih itu dianggap ide brilian. Sementara Hillary tak mempunyai sesuatu yang otentik.
Keempat, seperti dikatakan oleh Phil Ruffin Trumph adalah orang yang selalu mengikuti intuisinya ketimbang saran orang lain.

Kelima, Hillary tak jadi presiden karena ia perempuan. Pendapat ini mungkin berlebihan tapi tidak bagi Jennifer Merciece, seorang sejarawan ahli retorika  politik Amerika. Tentang kedua calon presiden itu ia berpendapat bahwa ia melihat kedua orang calon  diserang berdasarkan karakter  fisik mereka, kepribadian mereka, erta keputusan yang mereka ambil  di masa lalu. Tetapi satu hal yang pasti Hillary adalah perempuan sedangkan Trumph tidak. Banyak serangan kepada Hillary bersifat Misoginis, aqtau terkadang  dengan penggunaan kata “bitch” dan sundal. Bahkan ia sering diserang  karena skadal seks suaminya  di tahun 1980 an dan 1990 an  lebih gila lagi secara sarkastik Trump mengatakan :” Jika Hillary Clinton  tidak bisa memuaskan suaminya, bagaimana ia dapat memuaskan rakyat Amerika.” 

Demokrasi Amerika sedemikian terbuka dan vulgar bandingkan dengan pemilu di negara kita cara-cara seperti ini pasti sudah dianggap black campaign.
Pemilu di Amerika memang keras bahkan maaf biadap. Jenifer Mercieca menyebutnya pemilu kali ini berbahaya. Katanya, “ketika kita memperlakukan politik seperti olah raga atau perang, kita membuat diri kita sebagai penggemar atau prajurit. Kita akan  bersorak mendukung atu mencemooh menurut perintah” kata Jennifer.