AHOK DJAROT MEMBELAH PDIP
Mengapa PDIP
pusing ? tentu saja karena diatara kader masih terbelah antara yang
menginginakn incumben maju dan yang tak menginginkan incumben maju. Dan yang keras di Media adalah
yang terang-terangan anti Ahok. Untuk dicalonkan PDIP. Megawati sendiri
terlihat diam.
Santer memang para penentang Ahok yakin pada Risma. Lalu
bagaimana dengan Risma sendiri. Mega tak serta merta mengiayakan pilihan
para elit PDIP karena tidak begitu yakin
Risma akan menang ketika head to head melawan Ahok. Pernyataan ketua DPD PDI
Jatim, Kusnadi, bahwa kalau Risma ke Jakarta Risma harus menang, pernyataan itu
sebetulnya sebentuk kerisauan akan
pencalonan Risma yang mengandung
resiko. Dan tampaknya ini yang sedang dihitung oleh PDIP. Kekalahan
Risma ada kekalahan PDIP tidak hanya di Jakarta tetapi juga di Surabaya bahkan
Jawa Timur, sebab kalau Risma kalah PDIP
akan ditinggalkan konstituen di Jakarta
dan Surabaya dan di Jatimpun PDIP rawan anjog.
Masuk akal yang dikatakan oleh Sekjen PDIP
bahwa Ahok- Djarot adalah pilihan yang masuk akal, apalagi partai pendukung
Ahok tidak keberatan akan Djarot sebagai calon Wakil Gubernur. Tetapi
tampaknya koalisi PDIP harus senam
jantung lebih panjang. Tetapi banyak
yang harus menunggu karena memang bandul perpolitikan ibu kota memang ada di
partai pemenang, apalagi PDIP dapat mencalonkan calonnya sendiri tanpa berkoalisi.
Bambang DH yang mewakili PDIP dalam koalisi
kekeluargaan tidak bisa begitu saja mengklaim bahwa Megawati pasti memilih Risma dan menjadi satu barisan penentang
Ahok. Jelas sekali ada tarik menarik
antara DPD PDI DKI dan DPP PDI. Menarik yang
disampaikan oleh Ikrar Nusa Bhakti, bahwa Ahok Djarot bagi PDIP lebih
menguntungkan bagi PDIP karena pahala politiknya lebih besar. Dan yang lebih penting lagi kata Ikrar PDIP
mestinya juga memperhitungkan opinion
leader di DKI, termasuk dukungan Jokowi pada Ahok, walau Jokowi tidak secara terbuka mendukungnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar