Minggu, 14 Agustus 2016

AHOK DJAROT MEMBELAH PDIP

Mengapa PDIP  pusing ? tentu saja karena diatara kader masih terbelah antara yang menginginakn incumben maju dan yang tak menginginkan  incumben maju. Dan yang keras di Media adalah yang terang-terangan anti Ahok. Untuk dicalonkan PDIP. Megawati sendiri terlihat diam.

Santer memang para  penentang Ahok yakin pada Risma. Lalu bagaimana dengan  Risma sendiri.   Mega tak serta merta mengiayakan pilihan para elit PDIP  karena tidak begitu yakin Risma akan menang ketika head to head melawan Ahok. Pernyataan ketua DPD PDI Jatim, Kusnadi, bahwa kalau Risma ke Jakarta Risma harus menang, pernyataan itu sebetulnya sebentuk kerisauan  akan pencalonan  Risma yang mengandung resiko.  Dan tampaknya  ini yang sedang dihitung oleh PDIP. Kekalahan Risma ada kekalahan PDIP tidak hanya di Jakarta tetapi juga di Surabaya bahkan Jawa Timur, sebab kalau  Risma kalah PDIP akan ditinggalkan konstituen di   Jakarta dan Surabaya dan di Jatimpun PDIP rawan anjog.

Masuk akal yang dikatakan oleh Sekjen PDIP bahwa Ahok- Djarot adalah pilihan yang masuk akal, apalagi partai pendukung Ahok tidak keberatan akan Djarot sebagai calon Wakil Gubernur. Tetapi tampaknya  koalisi PDIP harus senam jantung lebih panjang.  Tetapi banyak yang harus menunggu karena memang bandul perpolitikan ibu kota memang ada di partai pemenang, apalagi PDIP dapat mencalonkan calonnya sendiri  tanpa berkoalisi.

Bambang DH yang mewakili PDIP dalam koalisi kekeluargaan tidak bisa begitu saja mengklaim bahwa Megawati pasti memilih  Risma dan menjadi satu barisan penentang Ahok.  Jelas sekali ada tarik menarik antara DPD PDI DKI dan DPP PDI.  Menarik yang disampaikan oleh Ikrar Nusa Bhakti, bahwa Ahok Djarot bagi PDIP lebih menguntungkan bagi PDIP karena pahala politiknya lebih besar.  Dan yang lebih penting lagi kata Ikrar PDIP mestinya juga memperhitungkan  opinion leader di DKI, termasuk dukungan Jokowi pada Ahok, walau Jokowi tidak  secara terbuka mendukungnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar