MEGAWATI MASIH PILIH AHOK
Hari –hari ini Megawati masih pusing membujuk
Risma ke Jakarta. Risma juga tidak
begitu nyaman dengan bujukan petinggi
PDIP, sampai-sampai keluar kata dari mulutnya, apakah Surabaya bukan Indonesia,
ketika ditanyai wartawan. Kalimat itu menunjukkan kalau Risma enggan dicalonkan sebagai gubernur DKI, apalagi
harus mencalonkan diri. Ia cukup gerah
ketika pasukan pendukung Risma dari
Jakarta yang terkenal sebagai Jaklovers berdiskusi dengan warga
Surabaya, agar warga Surabaya merelakan Risma.
Risma uring-uringan dengan gerakan
warga ibu kota itu dan menganggap aktivitas mereka dapat mengganggu
irama kerjanya.
Megawati pantas pusing, sepusing ketika ia pada
tahun 2012 tahun lalu terus menerus didesak agar Jokowi dimajukan saja
sebagai calon gubernur Jakarta. Ia pernah
pusing juga ketika ada desakan agar Jokowi dicalonkan sebagai Presiden. Tetapi
kali ini, Megawati pusing bukan karena harus mencalonkan seseorang, tetapi
lebih karena orang yang dicalonkannya menolak. Bahkan Risma mengaku akan terbang ke Jakarta untuk mencari solusi terbaik. Bisa dibayangkan
pembicaraan dua ” wanita kuat “ itu akan
merupakan bujukan dan penolakan.
Megawati dan PDIP memang terkenal tidak
keburu-buru dalam menentukan pasangan calon baik Gubernur, kabupaten kota mapun pilpres, tapi hasilnya kadang justru positif. Pada tahun 2012 lalu Megawati menolak desakan Partai demokrat untuk mengusung Fauzi Bowo
dan Adang Ruchiatna 19 Maret malam,
hanya beberapa jam ketika pendaftaran ditutup.
Pilihan PDIP untuk mendukung calon bersama Gerindra, dimana PDIP
mencalonkan Joko Widodo dan Gerindra memilih Ahok, membuat konstelasi
politik berubah. Dan pada jam-jam terkhir PKS juga mengubah
koalisi, yang semula berkoalisi
dengan Demokrat untuk mengusung Foke , mencalonkan kadernya sendiri Hidayat
Nur Wachid dan Didik Rachbani. Pengalaman politik seperti itulah, yang membuat
PDIP tenang-tenang saja dan memilih waktu yang tepat.
Tampaknya Ahok bakal melenggang dengan mulus. Beberapa
alasan yang membuat ia bakal mulus memengangkan pemilihan gubernur. Pertama,
hingga saat ini belum ada tokoh yang
sanggup menyaingi Ahok. kedua, calon yang digadang-gadang PDIP, Tri Risma Harini
saat ini belum menyatakan bersedia. Ketiga, warga Jakarta kadung kepincut Ahok, karena
prestasinya membangun Jakarta.
Tri Risma
Harini sebetulnya sangat digadang-gadang oleh PDIP. Ketika ia hadir
dalam rapat Dewan Pertimbangan Presiden,
10 Maret lalu, Risma meminta agar kehadirannya dikaitkan dengan pencalonan
dirinya sebagai gubernur DKI. Waktu itu Risma berkata kepada Megawati, “ Bu, saya
mendapat amanah di Surabaya, saya harap saya tidak dicalonkan baik di DKI
Jakarta maupun di Jawa Timur.” Tetapi walau Risma bergeming, tokoh-tokoh PDIP
terus bergerilnya.
Tetapi tidak ada kepastian juga bahwa PDIP
pasti menolak Ahok. Ahok sebetulnya punya kelebihan dekat dengan petinggi PDIP
bahkan hingga saat ini Ahok masih dekat dengan kader-kader PDIP. Memang hubungan
mereka agak merenggang ketika Ahok menggandeng
Teman Ahok untuk dapat mencalonkan sebagai gubernur DKI. Saat itu lalu
ada istilah deparpolisasi, dan Ahok dianggap yang memicu isu itu. Ahok kala itu dinilai tergesa-gesa karena
memaksa PDIP untu menentukan sikap, padahal di PDIP ada mekanismenya. Padahal Megawati cukup dengan Ahok. Pada akhir
2013 Megawati setidaknya dua kali
ketemu Ahok, yang pertama pada saat Diplomasi Bakmi Belitung, di rumah Megawati, 8 Desember 2013. Pertemuan
kedua, kunjungan Megawati pada saat
Natalan, pada tanggal 25 Desember 2013. Bahkan
di tahun ini, hubungan Megawati dan Ahok terbilang akrab, bahkan ia
dielu-elukan saat Rakernas PDIP pada
tanggal 9-11 Januari 2016. Keakraban juga terjadi ketika Megawati
memberikan tumpeng kepada Ahok saat
Megawati merayakan ulang tahunnya.
Keakraban itu masih terjalin ketika Megawati menyerahkan buku Megawati dalam Catatan Wartawan: Menangis dan
tertawa bersama rakyat, 23 Maret 2016.
PDIP dan Ahok memang sempat mengalami
kerenggangan hubungan, tetapi hubungan mereka belum betul-betul putus, apalagi ketika Ahok “bertobat” untuk
mempercayai partai politik sebagai gerbong pencalonnya sebagai calon Gubernur. Tradisi PDIP untuk memilih pasangan calon
pada detik-detik terakhir tampaknya akan
terulangi. Dan pilihan untuk Ahok tampaknya masih merupakan pilihan realistis. Megawati masih punya Ahok kalau Risma menolak untuk berpartisipasi dalam
pemilihan Gubernur DKI Jakarta.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar