Jumat, 05 Agustus 2016

MEGAWATI  MASIH PILIH AHOK

Hari –hari ini Megawati masih pusing membujuk Risma ke  Jakarta. Risma juga tidak begitu nyaman  dengan bujukan petinggi PDIP, sampai-sampai keluar kata dari mulutnya, apakah Surabaya bukan Indonesia, ketika ditanyai wartawan. Kalimat itu menunjukkan kalau Risma enggan  dicalonkan sebagai gubernur DKI, apalagi harus mencalonkan diri. Ia cukup gerah  ketika pasukan pendukung Risma dari  Jakarta yang terkenal sebagai Jaklovers berdiskusi dengan warga Surabaya, agar warga Surabaya merelakan Risma.  Risma uring-uringan dengan gerakan  warga ibu kota itu dan menganggap aktivitas mereka dapat mengganggu irama kerjanya.

Megawati pantas pusing, sepusing  ketika ia  pada tahun 2012 tahun lalu terus menerus didesak agar Jokowi dimajukan saja sebagai  calon gubernur Jakarta. Ia pernah pusing juga ketika ada desakan agar Jokowi dicalonkan sebagai Presiden. Tetapi kali ini, Megawati pusing bukan karena harus mencalonkan seseorang, tetapi lebih karena orang yang dicalonkannya menolak. Bahkan Risma mengaku akan  terbang ke Jakarta  untuk mencari solusi terbaik. Bisa dibayangkan pembicaraan dua  ” wanita kuat “ itu akan merupakan bujukan dan penolakan.

Megawati dan PDIP memang terkenal tidak keburu-buru dalam menentukan pasangan calon baik  Gubernur, kabupaten kota mapun pilpres, tapi hasilnya kadang justru positif. Pada tahun 2012 lalu  Megawati menolak desakan  Partai demokrat untuk mengusung Fauzi Bowo dan Adang Ruchiatna 19  Maret malam, hanya beberapa jam ketika pendaftaran ditutup.  Pilihan PDIP untuk mendukung calon bersama Gerindra, dimana PDIP mencalonkan Joko Widodo  dan  Gerindra memilih Ahok, membuat konstelasi politik berubah.  Dan pada  jam-jam terkhir PKS juga mengubah koalisi,  yang semula berkoalisi dengan  Demokrat untuk mengusung  Foke , mencalonkan kadernya sendiri Hidayat Nur Wachid dan Didik Rachbani. Pengalaman politik seperti itulah, yang membuat PDIP tenang-tenang saja dan memilih waktu yang tepat.

Tampaknya Ahok bakal melenggang dengan mulus. Beberapa alasan yang membuat ia bakal mulus memengangkan pemilihan gubernur. Pertama, hingga saat ini belum ada  tokoh yang sanggup menyaingi Ahok. kedua, calon yang digadang-gadang PDIP, Tri Risma Harini saat ini belum menyatakan bersedia. Ketiga, warga  Jakarta kadung kepincut Ahok,   karena prestasinya membangun  Jakarta.

Tri Risma  Harini sebetulnya sangat digadang-gadang oleh PDIP. Ketika ia hadir dalam rapat Dewan  Pertimbangan Presiden, 10 Maret lalu, Risma meminta agar kehadirannya dikaitkan dengan pencalonan dirinya sebagai gubernur DKI.  Waktu itu  Risma berkata kepada Megawati, “ Bu, saya mendapat amanah di Surabaya, saya harap saya tidak dicalonkan baik di DKI Jakarta maupun di Jawa Timur.” Tetapi walau Risma bergeming, tokoh-tokoh PDIP terus bergerilnya.

Tetapi tidak ada kepastian juga bahwa PDIP pasti menolak Ahok. Ahok sebetulnya punya kelebihan dekat dengan petinggi PDIP bahkan hingga saat ini Ahok masih dekat dengan kader-kader PDIP. Memang hubungan mereka agak merenggang ketika Ahok menggandeng  Teman Ahok untuk dapat mencalonkan sebagai gubernur DKI. Saat itu lalu ada istilah deparpolisasi, dan Ahok dianggap yang memicu isu itu.  Ahok kala itu dinilai tergesa-gesa karena memaksa PDIP untu menentukan sikap, padahal di PDIP ada mekanismenya.  Padahal Megawati cukup dengan Ahok. Pada akhir 2013  Megawati setidaknya dua kali ketemu  Ahok, yang pertama  pada saat Diplomasi Bakmi Belitung, di rumah  Megawati, 8 Desember 2013. Pertemuan kedua,  kunjungan Megawati pada saat Natalan, pada tanggal 25 Desember 2013.  Bahkan di tahun ini, hubungan Megawati dan Ahok terbilang akrab, bahkan ia dielu-elukan saat Rakernas PDIP  pada tanggal 9-11  Januari 2016.  Keakraban juga terjadi ketika Megawati memberikan tumpeng kepada Ahok saat  Megawati merayakan ulang tahunnya.  Keakraban itu masih terjalin ketika Megawati  menyerahkan buku  Megawati dalam Catatan Wartawan: Menangis dan tertawa bersama rakyat, 23  Maret 2016.


PDIP dan Ahok memang sempat mengalami kerenggangan hubungan, tetapi hubungan mereka belum betul-betul  putus, apalagi ketika Ahok “bertobat” untuk mempercayai partai politik sebagai gerbong pencalonnya sebagai calon  Gubernur.   Tradisi PDIP untuk memilih pasangan calon pada detik-detik  terakhir tampaknya akan terulangi. Dan pilihan untuk Ahok tampaknya masih  merupakan pilihan realistis. Megawati  masih punya Ahok kalau  Risma menolak untuk berpartisipasi dalam pemilihan  Gubernur DKI  Jakarta.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar