Rabu, 28 September 2016

KEMENANGAN TRUPH BISA MENJADI UJIAN PLURALISME DI AS

Pemilihan presiden Amerika Serikat yang akan digelar 20 November 2016 diikuti oleh dua kontestan yang dianggap tidak populer. Hillary dianggap tidak disukai oleh kalangan partai demokrat. Demikianpun Trumph juga mempunyai banyak pembenci. Bahkan Trumph dianggap presiden yang paling tak populer dikalangan non kulit putih sejak  Barry Goldwater di tahun 1965.  Tingkat ketidaksukaan pemilih pada Trump dan Hillary hampir  seimbarng, 60 persen Trumph dan 55 persen untuk Hillary. Tapi justru karena penampilan Donald Trumph yang "memuakkan"  itulah yang membuat pemilu presiden kali ini tetap riuh. Yang sedikit lucu adalah pembenci  Trumph ada mengidolakan Hillary dan sebaliknya.

Trumph adalah calon  Presiden yang menarik perhatian. Dia adalah orang yang awam politik, tetapi super kaya. Pernyataan-pernyataannya yang tidak peka  seperti ingin menyetop imigran, pernyataannya yang anti Islam adalah beberapa pernyataannya yang kontroversial.  Ketidakpekaaan itulah yang membuat Barack Obama  enggan mendukungnya dan polling Hillary merangkak naik yang semula di bawah Trumph kini mengimbangi bahkan melampaui, bahkan dalam debat terakhir Hillary dianggap menang telak. Walau banyak pihak yang meragukan calon dari Partai Republik, Donald Trumph  akan memenangkan kontestasi pemilihan Presiden atas calon dari partai Demokrat, Hillary Clinton, tetapi temperamen calon Donald Trumph yang sulit diramalkan membuat pemilihan presiden Amerika cukup menarik hari demi hari.

Donald Trumph adalah pengusaha besar dan belum pernah memegang jabatan publik.  Ia mengaku  tak begitu paham politik lagi pula ia memang minim pengalaman politik, ini  yang membuat para pendukungnya cukup was was. Tetapi kepiawaiannya untuk berbicara kepopulerannya dalam reality show membuat ia begitu populer.  Polling pemilih menunjukkan grafik yang naik turun, antara Hillary dan Trumph.  Ini cukup mencengangkan mengingat  ada sentimen negatif tentang Trumph.  Ia tidak disukai karena sikapnya yang eksklusif dan berubah-ubah, juga kekbohongannya selama kampanye.  Jaringan televisi NBC pernah menerbitkan daftar 117  kebohongan dan pemutarbalikkan  posisi sejak ia  memulai kampanye Juni 2016.  Termasuk keinginannya untuk mendeportasi 11 juta imigran yang sudah lama tinggal di AS, pajak dan kebijaksanaan ekonomi, posisi aborsi yang berbalik tiga kali sehari, dan menuduh Obama bukan kelahiran Amerika ( Wimar Witoelar, 9 Sept. 2016).

Dari sisi popularitas, Trump lebih unggul.  Wajahnya lebih banyak ditonton di televisi.  Bisa dibandingkan dengan kepopuleran Maddona di masa jayanya. Donald Trump mampu menggunakan televisi dan media sosial untuk mendongkrak popularitasnya. Trumph  menggunakan twitter untuk mendongkrak keterkenalannya hanya dengan 140 karakter.

Menurut Wimar Witoelar, ucapan Trumph itu asik didengar, lepas dari setuju atau tidaknya kita, itulah alasannya ia mendapat liputan media.  Ia hampir tidak mengeluarkan uang untuk liputan TV atau iklan. Isi ucapannya membingungkan dan tidak masuk akal tapi anehnya orang tidak ambil pusing. Kalau ia terpilih memang ia bisa sekontroversial presiden Philipina.  Ucapannya yang salah justru ditunggu oleh media, dan kalau salah ia dengan enteng akan mengoreksi ucapannya dalam kesempatan pertemuan sebelunya.

Dan tampaknya Trumph sadar akan kepopulerannya. Ia tak butuh kocek lebih besar untuk kampanye, karena media sudah bermurah hati untuk meliputnya. Mungkin dari sedikit yang diharapkan dari Trumph adalah karena ia begitu  terang-terangan, ia akan secara terbuka lobi-lobi  Washington yang berusaha mendekatinya.

Karakter ini yang membedakan dengan Hillary.  Hillary  menguasai dukungan orang  terpelajar dan orang hitam.  Dua koalisi ini disebut-sebut menjadi penentu kemenangan Obama ata John Mc Cain (2008) dan Mitt Romney (2012).   Keduanya, memang dianggap dua kandidat yang tidak populer di kalangan pemilih. Para pemilih tidak begitu “happy” dengan dua calon presiden mereka, mereka kawatir keduanya bisa menimbulkan kesalahan fatal yang berdampak kepada mereka.  Lima puluh persen lebih pemilih Amerika menkawatirkan hal itu jika Trumph terpilih, sementara ketakutan yang sama juga terjadi jika Clinton terpilih, 44 persen.
Kalau  NBC mengatakan bahwa Trumph pembohong dan mencatat jumlah kebohongannya, Hillary  pun pernah diragukan kejujurannya, berkaitan dengan  penggunaan server pribadi  untuk urusan dinas selama jadi menlu, kerancuan antara Clinton  Foundation dan urusan negara serta kesehatan pribadinya. Iapun harus hati-hati agar kejadian masa lalu ketika pollingnya menurun gara-gara dianggap melecehkan pendukung Trumph yang dianggapnya mengidap deporable dan terserang pneumonia ringan.
Hillary akan menjadi penerus Obama sebagai presiden berturut-turut  dari Partai demokrat kalau ia memenangkan pertarungan.  Hillary  delapan  tahun lalu kalah tipis dari  Obama di pemilihan pendahuluan dari partai demokrat, sehingga Obama menjadi presiden dari partai demokrat pertama sejak 44 tahun sebelumnya.

Menarik untuk ditunggu, apakah Donald Trumph dengan kepopuleranya ataukah Hillary yang dianggap mewakili  generasi lalu yang mengndalkan rekam jejak, kecerdasan dan kekuatan konsep.

Jumat, 02 September 2016

SEJARAH KEMERDEKAAN INDONESIA: HASIL PERJUANGAN ATAU DIPLOMASI

Tanggal 19 Desember 1948 Belanda memasuki kota Yogyakarta dengan dengan persenjataan lengkap lewat operasi yang dipimpin oleh jendral Spoor yang dikenal  sebagai operasi Krai, atau operasi kilat  yang salah sifatnya adalah dadakna, pada waktu itu TNI dengan panglimanya  Sudirman sebetulnya  sudah nyaris berhasil meloloskan  para pemimpin Republik  yang waktu itu ada di istana presiden, Gedung Agung sekarang, yang ada di Yogyakarta.  Tapi Soekarno lebih senang menegakkan Bendera putih  di depan istana dan dijadikan oleh Belanda sebagai tahanan politik.

Sudah  lama ada strategi berseberangan antara TNI yang ngotot menggunakan cara perang dan para pemimpin Republik yang  lebih menyukai diplomasi. Setelah para pemimpin republik ditahan, TNI meneruskan perjuangan senjata dan bagi TNI perjuangan bersenjata tak bisa dihilangkan begitu saja. Dan TNI  ingin menunjukkan kepada Belanda bahwa masih ada perjuangan bersenjata, dan itu didengar sampai Dewan Keamanan PBB. Sehingga kalau  Belanda menganggap  kehadiran TNI sebagai aksi polisionel sulit dipahami oleh banyak bangsa. Jadi  boleh dikatakan perjuangan diplomasi hanya efektif jika juga secara bersamaan ada perjuangan bersenjata.

Pemimpin TNI  terlebih Sudirman sangat jengkel kepada pemimpin Belanda yang menganggapnya TNI sudah tidak ada.  Apakah ini suatu kegagalan TNI ? tentu saja tidak  presiden adalah simbol negara, kalau ia memenuhi permintaan Sudirman ( untuk tidak menyerah ), apakah Belanda mau berunding, malahan mungkin ia sudah dibunuh dan belum  tentu juga Republik Indonesia  dikembalikan, jadi pada saat  yang sama, militer membutuhkan diplomasi.
Lalu bagaimana dengan BFO, negara-negara bagian yang dibentuk Belanda, apakah  mereka adalah sekutu yang baik bagi  Belanda, karena untuk menuruti yang dikehendaki Belanda ada sesuatu yang dipertaruhkan yakni nasib bangsa. Maka wajar kalau memreka diam-diam datang ke tempat pengasingan Soekarno di Bangka akibatny, BFO tidak mematuhi Belanda, dan sebelum sampai tahap yang begitu menentukan , tetap mengharapkan agar pemimpin  Republik  yang dipersonifikasikan Soekarno dan Hatta harus diikutsertakan dalam perundingan.


Nah ketika  Belanda terdesak  oleh masyarakat Internasional  dan kehilangan sekutu di BFO (negara boneka ciptaan Belanda),  apalagi Belanda berkali-kali gagal memadamkan perlawanan tentara, maka tak ada pilihan lain  bagi Belanda  untuk segera memenuhi resolusi Dewan Keamanan PBB. Tidak hanya itu lebih jauh lagi  Belanda setuju dengan  rencana untuk diadakannya Konferensi Meja Bundar. Jadi tidak ada kemenang diplomasi tanpa peran militer.