Senin, 08 Agustus 2016

AHOK BANGUNKAN NOSTALGIA POLITIK DEMOKRASI LIBERAL

Ahok, seorang Tionghoa tak dinyana harus memimpin   Jakarta, bagaimanapun prosesnya. Masyarakat Tionghoa dalam masyarakat kita  disikapi penuh kecurigaan, walaupun banyak Tionghoa tak diragukan nasionalitasnya tidak beda dengan  etnis yang lain.  Memang menjadi Tionghoa  di Indonesia tidaklah mudah, sekalipun “kampiun” ekonomi banyak yang berasal dari etnis ini.  Sejak orde baru kiprah   Tionghoa di dunia politik terbilang kecil, maka  kesuksesan Ahok di dunia politik, patut disambut gembira oleh kaum  Tionghoa.

Harus diakui Ahok bukanlah yang pertama bergelut di bidang politik dari warga   Tionghoa. Di zaman  Orde Baru ada nama  Harry Tjan Sillahi alias Tjan Tjun Hok, politisi Tionghoa yang sering diujuki arsitek  Orde Baru di zaman Ali Murtopo.

Di bidang sosial politik, etnis Cina sering diledek secara negatif, dengan menyebut orang Tionghoa  cenderung ikut angin  atau ikut golongan yang berkuasa. Di Zaman Orba  pengusaha keturunan  mendapat tempat terhormat di mata penguasa  orba.

Di Zaman orba, keterlibatan Tionghoa sangat dibatasi ruang geraknya. Semua yang berbau Tionghoa  dipinggirkan. Pemakaian huruf Tionghoa dilarang, penutupan  sekolah Tionghoa, larangan penggunaan bahasa Tionghoa, pembatasan surat kabar Tionghoa, penggantian nama Tionghoa,pembatasan perayaan imlek dan arak-arak (Cap Go Meh ), tidak diakuinya perkawinan antar pemeluk Konghucu, otomatis agama Konghucu juga tidak diakui. Maka bagi etnis Tionghoa di zaman orba tak ubahnya ladang pembantaian kultural.

Tetapi sejak  Gus Dur jadi presiden pada tahun 2002  menjadikan  Imlek  hari libur dan kemudian menghapus diskriminasi yang lain, sehingga sedikit demi sedikit Etnis Tionghoa  mulai keluar dari keterbatasan-keterbatasannya, termasuk di dunia politik. Ahok adalah sosok dan produk dari kebebasan politik yang seperti itu. Kemunculan Ahok  menjadikan bangsa ini terbiasa dengan munculnya Tionghoa di panggung politik sebagaimana orang jawa menerima suku batak atau Sunda.

Tetapi jauh sebelum orde baru lahir,  Tionghoa  sebetulnya sudah banyak memainkan peran. Dan pada zaman hingar bingar kepartaian, Etnis  Tionghoa tidak berkumpul  dalam satu wadah tapi tersebar kemana-mana. Misal H  Abdul  Karim Oei Tjeng Hien di Masyumi, Tan Ling Djie pernah menjadi sekjen PKI sebelum ia digantikan oleh  DN Aidit, Di Partai  Katholik dan Parkindo terdapat nama Tjun Tin Jan, Auwyong peng Koen ( pendiri Kompas,  yang kemudian berganti nama P.K Ojong, Li Beng  Giok ( salah satu pendiri Sin Ming Hui  (yayasan Taruma Negara). Bahkan salah satu dari 21 anggota Panitia Persiapan kemerdekaan Indonesia Drs Yap Tjwan Bing,  masuk PNI bersama seniman  bernama Tony Wen. Ada lagi nama Dr  Ong Eng Die yang dipercaya sebagai mentri keuangannya kabinet Ali Sastro Amidjoyo dari PNI, Dr Lie Kiat Teng  alias Mohamad Ali dari PSII.

kalau kita perhatikan banyak tokoh Tionghoa beragama Islam sehingga soal cina masuk Islam sudah terjadi pada zaman dulu dan Tionghoa masuk ke dunia politik  juga sudah  terjadi di zaman demokrasi liberal.  Dan kalau  kini ada  Tionghoa ada yang menjadi elit politik nasional, sebetulnya merupakan  penerusan generasi yang dahulu.

Tetapi memang di zaman orba peran Tionghoa di bidang politik tiarap, hal itu dimulai ketika Orde lama menjelang hancur. hal itu disebabkan wadah politik golongan Tionghoa, Baperki, dikuasai elit sayap kiri yang berideologi sosialis marxis yang mau tidak mau masuk dalam arus politiknya  Bung  Karno saat itu Nasakom.  Pada waktu itu yang menjadi ketua umum Baperki adalah Siauw giok Tjha yang didampingi oleh Mr. Oei Tjoe Tat yang diangkat sebagai mentri  negara diperbantukan Presedium kabinet  oleh Bung  Karno. Didalam kabinet 100 mentrinya Bung Karno  ada Tionghoa lainya yaitu H Moehamad  Has alias Tan Kiem Liong dari NU dan Ir David Tjeng. Tumbangnya kekuasaan  Soekarno  dan pemberontakan PKI menyurutkan peran politik Tionghoa.

Memang di zaman Orba muncul tokoh politisi intelektual seperti Harry Tjan bersama dua saudara Wanandi ( Liem Bian Kie dan Lie  Bian Koen) dalam arus politik yang anti PKI yang menguat. Tapi Soeharto tak ingin memberi peran politik sampi arus reformasi muncul ketika salah satu  etnis Cina dipercaya  di kabinet Megawati yakni Kwik Kian Gie dan menjelang akhir kejatuhan Soeharto ia mengangkat Bob  Hasan seorang Cina yang dikenal dekat dengan Soeharto.


Memang belum banyak tokoh Tionghoa Indonesia  yang mengambil peran di bidang politik, tapi setidaknya Ahok telah membuktikan bahwa seorang Tionghoa bisa diterima oleh orang Indonesia yang lain. Kemunculan Ahok,  akan mengembalikan nostalgia peran politik Tionghoa dalam kancah perpolitikan nasional.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar