AHOK BANGUNKAN NOSTALGIA POLITIK DEMOKRASI
LIBERAL
Ahok, seorang Tionghoa tak dinyana harus
memimpin Jakarta, bagaimanapun
prosesnya. Masyarakat Tionghoa dalam masyarakat kita disikapi penuh kecurigaan, walaupun banyak
Tionghoa tak diragukan nasionalitasnya tidak beda dengan etnis yang lain. Memang menjadi Tionghoa di Indonesia tidaklah mudah, sekalipun
“kampiun” ekonomi banyak yang berasal dari etnis ini. Sejak orde baru kiprah Tionghoa di dunia politik terbilang kecil,
maka kesuksesan Ahok di dunia politik,
patut disambut gembira oleh kaum
Tionghoa.
Harus diakui Ahok bukanlah yang pertama
bergelut di bidang politik dari warga
Tionghoa. Di zaman Orde Baru ada
nama Harry Tjan Sillahi alias Tjan Tjun
Hok, politisi Tionghoa yang sering diujuki arsitek Orde Baru di zaman Ali Murtopo.
Di bidang sosial politik, etnis Cina sering
diledek secara negatif, dengan menyebut orang Tionghoa cenderung ikut angin atau ikut golongan yang berkuasa. Di Zaman
Orba pengusaha keturunan mendapat tempat terhormat di mata penguasa orba.
Di Zaman orba, keterlibatan Tionghoa sangat
dibatasi ruang geraknya. Semua yang berbau Tionghoa dipinggirkan. Pemakaian huruf Tionghoa
dilarang, penutupan sekolah Tionghoa,
larangan penggunaan bahasa Tionghoa, pembatasan surat kabar Tionghoa, penggantian
nama Tionghoa,pembatasan perayaan imlek dan arak-arak (Cap Go Meh ), tidak
diakuinya perkawinan antar pemeluk Konghucu, otomatis agama Konghucu juga tidak
diakui. Maka bagi etnis Tionghoa di zaman orba tak ubahnya ladang pembantaian
kultural.
Tetapi sejak
Gus Dur jadi presiden pada tahun 2002
menjadikan Imlek hari libur dan kemudian menghapus
diskriminasi yang lain, sehingga sedikit demi sedikit Etnis Tionghoa mulai keluar dari
keterbatasan-keterbatasannya, termasuk di dunia politik. Ahok adalah sosok dan
produk dari kebebasan politik yang seperti itu. Kemunculan Ahok menjadikan bangsa ini terbiasa dengan
munculnya Tionghoa di panggung politik sebagaimana orang jawa menerima suku
batak atau Sunda.
Tetapi jauh sebelum orde baru lahir, Tionghoa
sebetulnya sudah banyak memainkan peran. Dan pada zaman hingar bingar
kepartaian, Etnis Tionghoa tidak
berkumpul dalam satu wadah tapi tersebar
kemana-mana. Misal H Abdul Karim Oei Tjeng Hien di Masyumi, Tan Ling
Djie pernah menjadi sekjen PKI sebelum ia digantikan oleh DN Aidit, Di Partai Katholik dan Parkindo terdapat nama Tjun Tin
Jan, Auwyong peng Koen ( pendiri Kompas,
yang kemudian berganti nama P.K Ojong, Li Beng Giok ( salah satu pendiri Sin Ming Hui (yayasan Taruma Negara). Bahkan salah satu
dari 21 anggota Panitia Persiapan kemerdekaan Indonesia Drs Yap Tjwan
Bing, masuk PNI bersama seniman bernama Tony Wen. Ada lagi nama Dr Ong Eng Die yang dipercaya sebagai mentri
keuangannya kabinet Ali Sastro Amidjoyo dari PNI, Dr Lie Kiat Teng alias Mohamad Ali dari PSII.
kalau kita perhatikan banyak tokoh Tionghoa beragama Islam sehingga soal cina masuk Islam sudah terjadi pada
zaman dulu dan Tionghoa masuk ke dunia politik
juga sudah terjadi di zaman
demokrasi liberal. Dan kalau kini ada
Tionghoa ada yang menjadi elit politik nasional, sebetulnya
merupakan penerusan generasi yang
dahulu.
Tetapi memang di zaman orba peran Tionghoa di
bidang politik tiarap, hal itu dimulai ketika Orde lama menjelang hancur. hal itu disebabkan wadah politik golongan Tionghoa,
Baperki, dikuasai elit sayap kiri yang berideologi sosialis marxis yang mau
tidak mau masuk dalam arus politiknya
Bung Karno saat itu Nasakom. Pada waktu itu yang menjadi ketua umum Baperki
adalah Siauw giok Tjha yang didampingi oleh Mr. Oei Tjoe Tat yang diangkat
sebagai mentri negara diperbantukan Presedium
kabinet oleh Bung Karno. Didalam kabinet 100 mentrinya Bung
Karno ada Tionghoa lainya yaitu H
Moehamad Has alias Tan Kiem Liong dari
NU dan Ir David Tjeng. Tumbangnya kekuasaan
Soekarno dan pemberontakan PKI
menyurutkan peran politik Tionghoa.
Memang di zaman Orba muncul tokoh politisi
intelektual seperti Harry Tjan bersama dua saudara Wanandi ( Liem Bian Kie dan
Lie Bian Koen) dalam arus politik yang
anti PKI yang menguat. Tapi Soeharto tak ingin memberi peran politik sampi
arus reformasi muncul ketika salah satu
etnis Cina dipercaya di kabinet
Megawati yakni Kwik Kian Gie dan menjelang akhir kejatuhan Soeharto ia
mengangkat Bob Hasan seorang Cina yang
dikenal dekat dengan Soeharto.
Memang belum banyak tokoh Tionghoa
Indonesia yang mengambil peran di bidang
politik, tapi setidaknya Ahok telah membuktikan bahwa seorang Tionghoa bisa
diterima oleh orang Indonesia yang lain. Kemunculan Ahok, akan mengembalikan nostalgia peran politik
Tionghoa dalam kancah perpolitikan nasional.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar