Jumat, 05 Agustus 2016

RISMA OPORTUNIS SEJATI ?

Risma! Risma!  Risma ! PDIP seperta tak punya pilihan lain, dan semua seperti harus diboyong ke  Jakarta. Sepertinya daerah lain ndak boleh memiliki kader terbaik untuk menjadi kepala Daerah. Dengan memboyong Risma, PDIP seolah sedang mengapresiasi  Risma, yang akan jadi tokoh yang dapat menandingi Ahok, setelah Ridwan Kamil lebih realistis untuk mempersilahkan yang lain, karena bagi Ridwan Bandung dan  Jabar juga berhak mendapat kader terbaik.  Tetapi benarkah PDIP sedang mengapresiasi Risma, apa bukan karena PDIP ingin mengamankan   Jawa Timur I  dengan Bambang DH sebagai kader dari dalam yang lebih menampakkan seperti anak manis. Risma terbukti berani membangkang partai, walau akhirnya PDIP  harus pasrah dengan realitas politik. Kalau demikian jalan pikiran PDIP, maka Megawati dan PDIP memang benar-benar haus kekuasaan,  all out  mendukung Risma apapun ongkonsnya.

Jangan salahkan rakyat kalau menganggap PDIP sebagai partai yang egois.Walau berbagai survey  menempatkan  mayoritas pemilih PDI memilih Ahok, dan PDIP adalah partai yang paling banyak pemilih menjatuhkan pilihan politiknya pada Ahok, namun para petinggi partai menolak mati-matian fenomena ini.  Yang sering didalihkan oleh para petinggi PDIP yang anti Ahok adalah, survey itu menghasilkan angka seperti itu, karena baru Ahok yang terang-terangan maju sebagai  Calon Gubernur. Angka itu akan bergeser  seirama dengan diajukannya calon oleh partai-partai. Yang sering dilupakan oleh PDIP adalah pemilih  jakarta, berbeda dengan  daerah lain, karena warga Jakarta sudah melek politik, bahkan mereka tak mau terjebak dalam polarisasi isu sara.

Dengan terus mendesak Risma datang ke   Jakarta PDIP merasa sudah layak dan sepantasnya karena Risma adalah kader Partai, sebagai kader partai maka  Risma otomotis adalah petugas partai, dan sebagai petugas partai hanya ada satu pilihan : sendiko dawuh alias manut kalau tidak mau keluar dari partai dan dari kader PDIP. Wuih, betapa arogannya PDIP.

Strategi menempatkan Risma di DKI  I berstrategi kembar : pertama, memilihkan Ahok lawan yang sepadan, bahkan  yang paling berpeluang mengalahkan Ahok. Kedua, Memuluskan calon PDIP di  Jatim I. Muluskan skenario ini. Belum tentu juga. Dan kalau Risma kalah  maka warga Surabaya akan melihat  Risma seorang oportunis sejati dan reputasinya akan tercoreng.  Dan ketika ia kalah ia akan disayangkan oleh banyak orang.

Rakyat  Jakarta sedang menunggu Risma. Dan apa makna dari kata-katanya hari-hari terakhirnya yang dilansir  sebuah harian lokal, dan upaya minta maaf kepada sejumlah SKPD di lingkungan pemerintah kota Surabaya.   Hastag Jakarta menyambut Risma sempat menduduki 2 besar trending topik twitter di Jakarta.  Menarik untuk disimak apakah Risma akan menelan ludahnya sendiri, karena berkali –kali menolak untuk bertarung di DKI. Terakhir ia mengatakan hal  itu kepada tokoh masyarakat  Jawa Timur dan Madura. Bahkan ketika ditanya wartawan ia mengatakan Surabaya juga Indonesia  dan Surabaya tidak boleh dikecilkan.  Masih ada waktu, PDIP pun masih berharap, wanita kuat Jawa Timur itu akan kehilangan daya tahan, sehingga tergiur juga untuk menjadi gubernur DKI.

Risma memang bukan wanita sembarangan, juga di kalangan kader PDIP sendiri. Risma terkenal tak mudah dikendalikan partainya dan DPRD. Risma berhasil lolos melawan orang-orang partai, tentu bukan karena kepiawaian dalam memainkan bidak-bidak politik, tetapi ia jago  karena ia didukung oleh media, akademisi, tentu juga warga Surabaya. Semua mereka sepakat di belakang Risma. Belajar dari  pilkada jatim, PDIP tak sanggup melawan Risma.


Tri Risma  Harini memang belum habis bahkan ia sedang mulai move on. Tetapi  ambisi PDIP bisa saja menenggelamkan Risma lebih awal. Kalau Risma lebih sabar, toh masa jabatan keduanya baru berjalan 3 bulan, bukan tidak mungkin Jawa Timur I di tangannya, karena memang belum ada tokoh di  Jatim yang dapat menandinginya.  Tetapi kalau ia bermain staying power seperti ini, yang gerah tentu PDIP. Maka wajar saja kalau PDIP memaksa Risma pergi dari Surabaya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar