RISMA OPORTUNIS SEJATI ?
Risma! Risma!
Risma ! PDIP seperta tak punya pilihan lain, dan semua seperti harus
diboyong ke Jakarta. Sepertinya daerah
lain ndak boleh memiliki kader terbaik untuk menjadi kepala Daerah. Dengan memboyong Risma, PDIP seolah sedang
mengapresiasi Risma, yang akan jadi
tokoh yang dapat menandingi Ahok, setelah Ridwan Kamil lebih realistis untuk
mempersilahkan yang lain, karena bagi Ridwan Bandung dan Jabar juga berhak mendapat kader
terbaik. Tetapi benarkah PDIP sedang
mengapresiasi Risma, apa bukan karena PDIP ingin mengamankan Jawa Timur I
dengan Bambang DH sebagai kader dari dalam yang lebih menampakkan
seperti anak manis. Risma terbukti berani membangkang partai, walau akhirnya
PDIP harus pasrah dengan realitas
politik. Kalau demikian jalan pikiran PDIP, maka Megawati dan PDIP memang benar-benar haus
kekuasaan, all out mendukung Risma apapun ongkonsnya.
Jangan salahkan rakyat kalau menganggap PDIP sebagai partai yang egois.Walau berbagai survey menempatkan
mayoritas pemilih PDI memilih Ahok, dan PDIP adalah partai yang paling
banyak pemilih menjatuhkan pilihan politiknya pada Ahok, namun para petinggi partai menolak mati-matian
fenomena ini. Yang sering didalihkan
oleh para petinggi PDIP yang anti Ahok adalah, survey itu menghasilkan angka
seperti itu, karena baru Ahok yang terang-terangan maju sebagai Calon Gubernur. Angka itu akan bergeser seirama dengan diajukannya calon oleh
partai-partai. Yang sering dilupakan oleh PDIP adalah pemilih jakarta, berbeda dengan daerah lain, karena warga Jakarta sudah melek
politik, bahkan mereka tak mau terjebak dalam polarisasi isu sara.
Dengan terus mendesak Risma datang ke Jakarta PDIP merasa sudah layak dan
sepantasnya karena Risma adalah kader Partai, sebagai kader partai maka Risma otomotis adalah petugas partai, dan
sebagai petugas partai hanya ada satu pilihan : sendiko dawuh alias manut kalau
tidak mau keluar dari partai dan dari kader PDIP. Wuih, betapa arogannya PDIP.
Strategi menempatkan Risma di DKI I berstrategi kembar : pertama, memilihkan
Ahok lawan yang sepadan, bahkan yang
paling berpeluang mengalahkan Ahok. Kedua, Memuluskan calon PDIP di Jatim I. Muluskan skenario ini. Belum tentu
juga. Dan kalau Risma kalah maka warga Surabaya akan melihat Risma seorang oportunis sejati dan reputasinya
akan tercoreng. Dan ketika ia kalah ia
akan disayangkan oleh banyak orang.
Rakyat
Jakarta sedang menunggu Risma. Dan apa makna dari kata-katanya hari-hari
terakhirnya yang dilansir sebuah harian lokal, dan upaya minta maaf kepada sejumlah SKPD di lingkungan pemerintah
kota Surabaya. Hastag Jakarta menyambut
Risma sempat menduduki 2 besar trending topik twitter di Jakarta. Menarik untuk disimak apakah Risma akan
menelan ludahnya sendiri, karena berkali –kali menolak untuk bertarung di DKI.
Terakhir ia mengatakan hal itu kepada
tokoh masyarakat Jawa Timur dan Madura.
Bahkan ketika ditanya wartawan ia mengatakan Surabaya juga Indonesia dan Surabaya tidak boleh dikecilkan. Masih ada waktu, PDIP pun masih berharap,
wanita kuat Jawa Timur itu akan kehilangan daya tahan, sehingga tergiur juga
untuk menjadi gubernur DKI.
Risma memang bukan wanita sembarangan, juga di
kalangan kader PDIP sendiri. Risma terkenal tak mudah dikendalikan partainya
dan DPRD. Risma berhasil lolos melawan orang-orang partai, tentu bukan karena
kepiawaian dalam memainkan bidak-bidak politik, tetapi ia jago karena ia didukung oleh media, akademisi,
tentu juga warga Surabaya. Semua mereka sepakat di belakang Risma. Belajar dari pilkada jatim, PDIP tak sanggup melawan
Risma.
Tri Risma
Harini memang belum habis bahkan ia sedang mulai move on. Tetapi ambisi PDIP bisa saja menenggelamkan Risma
lebih awal. Kalau Risma lebih sabar, toh masa jabatan keduanya baru berjalan 3
bulan, bukan tidak mungkin Jawa Timur I di tangannya, karena memang belum ada
tokoh di Jatim yang dapat
menandinginya. Tetapi kalau ia bermain
staying power seperti ini, yang gerah tentu PDIP. Maka wajar saja kalau PDIP
memaksa Risma pergi dari Surabaya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar