Selasa, 19 Juli 2016

VAKSIN PALSU BISA SAJA TELAH MEMBUNUH
Walaupun keberadaan Vaksin palsu  sudah ada sejak  jaman, toh dengan jiwa besar kementrian Kesehatan mengakui kesalahan.  Dan Mentri kesehatan berjanji untuk memperkuat regulasi pengawasan vaksin, termasuk vaksin Impor.
“Kami mengakui beberapa kelemahan dalam pengawasan vaksin. Ini waktunya untuk intropeksi agar prosedur pengawasan vaksin diperketa. Soal limbah Farmasi  diawasi betul. Kata Mentri Kesehatan Nila Djuwita Anfasa Moeloek, di Jakarta, 19 Juli 2016 yang dikutip  Kompas
Dan kementrian kesehatan juga sudah melakukan antisipasi jangka pendek  untuk melakukan  imunisasi ulang  bagi  yang terindikasi divaksin pakai vaksin palsu.  Semua kita tersentak. Terkejut, jengkel tetapi itu tak ada  artinya, kalau kedepan kita mengulangi hal yang sama.  Dibutuhkan Regulasi yang lebih ketat, termasuk memastikan sumber vaksin yang dipakai fasilitas kesehatan, seperti yang diungkapkan salah satu petinggi kementrian kesehatan.
Yang lebih gila vaksin itu beredar sejak 2003. Tentu dalam kurun waktu sepanjang itu,   sulit memastikan  bahwa apakah seseorang memakai vaksin palsu atau tidak. Ada banyak celah masing-masing berkilah, baik itu Badan Pom, Pihak Rumah sakit, maupun Kemenkes.  Selama ini Pengawasan manfaat, keamanan dan mutu vaksin   sebelum dan sesudah berdar ada pada ranah BPOM, sementara pengawasan layanan kefarmasian menjadi ranah kemenkes.  Yang menjengkelkan masyarakat maka vaksin tak standar itu lolos, dan beberapa dokter merekomendasikan untuk memakaikannya kepada pasien, padahal permenkes   no  35/2014. Bisa dibayangkan seseorang yang berharap vaksin BCG akan melindungi dari penyakit mematikan itu, ataupun misal vaksin  untuk Tetanus diharapkan dapat melindungi seseorang dari penyakit tetanus, tetapi ternyata yang dipakai vaksin palsu, maka orang tersebut akan rentan terhadap penyakit tersebut. Bener-bener gila negeri ini,  kepada siapa lagi rakyat minta perlindungan, kalau pemerintah tak bisa memberi perlindungan kepada mereka.
Apalagi menurut beberapa pasien mereka mendatangi rumah sakit yang dianggap kredibel untuk mendapatkan fasilitas kesehatan untuk anak-anak mereka termasuk dalam  hal imunisasi.  Beberapa managemen  rumah sakit yang diduga menggunakan vaksin rumah sakit terkejut karena dokter dan paramedis diduga turut mengedarkan vaksin palsu, seperti  yang terjadi di rumah sakit harapan bunda  Jakarta Timur.  Begitupun yang terjadi  di rumah sakit Elisabeth Bekasi.  Keresahan yang sama juga terjadi di RSIA Sayang Bunda Pondok  Ungu  Permai, kabupaten Bekasi, yang rumah sakitnya mendapatkan suplai Vasi dari CV Azka  Medika sejak 2014.
Untung, walaupun terlambat kasus ini segera muncul, kalau tidak maka masyarakat disuguhi kepalsuan fasilitas kesehatan. Hanya orang dungu yang menganggap hal seperti ini biasa. Kerugiannya jangan  hanya diukur apa yang telah terjadi, tetapi juga  ongkos sosial seperti ketidakpercayaan masyarakat, sikap skeptis masyarakat terhadap pentingnya pemberian vaksin untuk balita mereka.  Rupanya masyarakat perlu mempertimbangkan ulang terhadap kepercayaan penuh kepada dokter tertentu, ternyata kepercayaan kepada dokter tertentu telah disalahgunan.  Tetapi ini juga menimbulkan kesadaran baru, bahwa masyarakat mulai sadar bahwa ada juga dokter yang menyalahgunakan kepercayaan kepada masyarakat. Sosiolog Universitas Indonesia mengatakan bahwa vaksin palsu ini mengungkap relasi yang asimetris antara  pasien  dan dokter serta rumah sakit ( kompas,  20 juli 2016).
Tapi menyalahkan dokter saja rasanya juga tidak tepat, dokter tidak tahu apakah vaksin itu asli atau tidak, karena hal itu membutuhkan uji laboratorium.  Yang dipermasalahkan bagaimana vaksin palsu kok bisa masuk rumah sakit.

Apakah  bencana ini mewakili masyarakat, yang ingin cepat kaya walau dengan merugikan orang lain. Ataukah juga karena orang gampang percaya pada seseorang, sehingga menghanguskan sikap waspada. Atau juga karena regulasi yang longgar, sehingga segala sesuatu bisa diatur, termasuk diatur demi keburukan. Kita semua belajar dari kasus ini. Semoga ini juga menjadi  pembelajaran bagi bangsa ini

1 komentar: