PDIP DIGOYANG GOLKAR
Golkar percaya diri usung Jokowi dalam pilpres
2019. Terpilihnya Setya Novanto, mengubah arah politik Golkar. Tak begitu lama setelah terpilih,
Setya Novanto langsung tancap gas untuk
mendukung Jokowi. Menarik untuk ditunggu manuver apa yang sedang dimainkan Golkar.
PDIP pantas gerah pada Golkar. Tetapi belum tentu juga PDIP akan
usung Jokowi. Mungkin itu yang sedang dihitung Golkar,
karena bagaimana peran Ketua Umum PDIP sangat besar dan tampaknya upaya Mega
untuk mengembalikan trah Soekarno belum benar-benar padam. Mega sedang memilih,
apakah Prabowo yang ingin dimunculkan ataukah percaya diri pada Puan. Disamping itu, Golkar yang pemilu lalu jadi pencundang,
kali ini emoh lagi jadi pecundang dan ingin memanfaatkan popularitas Jokowi
mendahului PDIP.
PDIP tahu Golkar sedang bermanuver, dan ini
yang membuat gerah petinggi PDIP, yang
tak tahan untuk disembunyikan, sehingga
Sekretaris Fraksi PDIP di Golkar, ketrucut bilang. “ Golkar tak biasa
kedinginan di luar pemerintahan. Setelah salah menghitung ketika bergabung dengan
Koalisi Merah Putih, kini Golkar ingin memperbaharui kesalahannya. Apalagi
peluang seperti itu sangat terbuka. Dengan
suara yang dimilikinya, Golkar bisa
dijadikan partner.
Dan sepanjang kiprahnya, Golkar memang selalu
berada di pemerintahan sejak pemilu 1977.
Sejarah Partai Golkara
bermula pada tahun 1964 dengan
berdirinya Sekber Golkar di masa akhir
pemerintahan Soekarno. Sekber golkar didirikan oleh Golong Militer, khususnya
perwira Angkatan Darat ( sepeti misalnya
Letkol Suhardiman dari SOKSI) menghimpun berpuluh-puluh organisasi pemuda, wanita, sarjana, buruh dan
nelayan dalam Sekretariat bersama Golongan karya.
Apapun pendapat PDIP, kalau kedua partai
nasionalis ini bersatu dan bisa memangun kebersamaan, akan menjadi awal yang
baik apalagi setelah partai-partai Islam terseok karena ideologi didalamnya
sungguh berbeda. Bagaimana PAN merasa tidak bisa bersama PKB atau Gerindra
dengan PKB. Sekjen Golkar berjanji ingin
menjalin kerjasama dengan PDIP dengan intensif.
Apa yang terjadi antara PDIP dan Golkar
melanggengkan adagium yang telah ada
selama ini bahwa tidak ada musuh yang abadi, yang ada adalah kepentingan abadi.
Sejak pemilihan presiden langsung tahun
2004 bahkan sejak sepanjang pemilu orde baru, Golkar dan PDIP tidak pernah
sejalan. Dan apakah kini sejarah baru akan terjadi dan Golkar mau mendekat ke
PDIP ataukah sejarah lama akan
dilanggengkan, menarik untuk terus diikuti perkembangannya.
Apa yang terjadi di Golkar, dimana partai Golkar tidak pernah di luar pemerintahan,
sangat tegas dikatakan oleh Aburizal Bakri ketika masih bergandengan dengan
Koalisi Merah Putih. Setelah Jokowi enggan meminang Aburizal, Aburizal Bakri
seperti panas kuping, dan mantap dengan Koalisi Merah Putih dan over konvident bahwa koalisinya bakal
menggilas calon PDIP. Tapi sedikit demi sedikit bangunan kemenangan partai
Golkar runtuh perlahan lahan, dimulai dengan kalahnya jago mereka dari Jokowi. Kemudian tidak begitu sukses dengan koalisi
di parlemen walaupun hampir seluruh alat kelengkapan mereka kuasai. Ujian pertama
ketika Agung Laksono menggoyang kepemimpinannya. Dan hasrat bersatu yang berseberangan,
memantapkan Aburizal untuk melihat dari jauh, karena orang-orangnya
mengendalikan kepeimpimpian yang telah ditinggalkannnya.
Golkar terkenal piawai bermain dalam kekuasaan.
PDIP tak berhasil mengucilkan Golkar dan justru Golkar jadi sekutu utama dalam
membangun koalisi. Jokowi sendiri juga
tahu berhitung kekuasaan. Ia perlu membuat kekuatan penyeimbang, sehingga ia “dipaksa”
menerima agenda PDIP ia masih punya kekuatan untuk mengadakan bargaining. Golkar betul-betul membuat PDIP pusing tujuh
keliling.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar