Jumat, 29 Juli 2016

PDIP DIGOYANG GOLKAR

Golkar percaya diri usung Jokowi dalam pilpres 2019. Terpilihnya Setya Novanto, mengubah arah politik  Golkar. Tak begitu lama setelah terpilih, Setya Novanto langsung tancap gas  untuk mendukung Jokowi. Menarik untuk ditunggu manuver apa yang sedang dimainkan  Golkar.

PDIP pantas gerah pada  Golkar. Tetapi belum tentu juga PDIP akan usung  Jokowi.  Mungkin itu yang sedang dihitung Golkar, karena bagaimana peran Ketua Umum PDIP sangat besar dan tampaknya upaya Mega untuk mengembalikan trah Soekarno belum benar-benar padam. Mega sedang memilih, apakah Prabowo yang ingin dimunculkan ataukah percaya diri pada  Puan. Disamping itu,   Golkar yang pemilu lalu jadi pencundang, kali ini emoh lagi jadi pecundang  dan  ingin memanfaatkan popularitas Jokowi mendahului PDIP.

PDIP tahu Golkar sedang bermanuver, dan ini yang membuat gerah petinggi PDIP,  yang tak tahan untuk disembunyikan, sehingga  Sekretaris Fraksi PDIP di Golkar, ketrucut bilang. “ Golkar tak biasa kedinginan di luar pemerintahan. Setelah salah menghitung ketika bergabung dengan Koalisi  Merah Putih, kini   Golkar ingin memperbaharui kesalahannya. Apalagi peluang seperti itu sangat terbuka.  Dengan suara yang dimilikinya,  Golkar bisa dijadikan partner.

Dan sepanjang kiprahnya, Golkar memang selalu berada di pemerintahan sejak pemilu 1977.  Sejarah Partai   Golkara bermula  pada tahun 1964 dengan berdirinya Sekber  Golkar di masa akhir pemerintahan Soekarno. Sekber golkar didirikan oleh Golong Militer, khususnya perwira  Angkatan Darat ( sepeti misalnya Letkol Suhardiman dari SOKSI) menghimpun berpuluh-puluh  organisasi pemuda, wanita, sarjana, buruh dan nelayan dalam Sekretariat bersama Golongan karya.
Apapun pendapat PDIP, kalau kedua partai nasionalis ini bersatu dan bisa memangun kebersamaan, akan menjadi awal yang baik apalagi setelah partai-partai Islam terseok karena ideologi didalamnya sungguh berbeda. Bagaimana PAN merasa tidak bisa bersama PKB atau Gerindra dengan PKB. Sekjen   Golkar berjanji ingin menjalin kerjasama dengan PDIP dengan intensif.

Apa yang terjadi antara PDIP dan Golkar melanggengkan adagium yang  telah ada selama ini bahwa tidak ada musuh yang abadi, yang ada adalah kepentingan abadi. Sejak pemilihan presiden langsung  tahun 2004 bahkan sejak sepanjang pemilu orde baru, Golkar dan PDIP tidak pernah sejalan. Dan apakah kini sejarah baru akan terjadi dan Golkar mau mendekat ke PDIP ataukah  sejarah lama akan dilanggengkan, menarik untuk terus diikuti perkembangannya.
Apa yang terjadi di Golkar, dimana partai  Golkar tidak pernah di luar pemerintahan, sangat tegas dikatakan oleh Aburizal Bakri ketika masih bergandengan dengan Koalisi Merah Putih. Setelah Jokowi enggan meminang Aburizal, Aburizal Bakri seperti panas kuping, dan mantap dengan Koalisi Merah Putih dan  over konvident bahwa koalisinya bakal menggilas calon PDIP. Tapi sedikit demi sedikit bangunan kemenangan partai Golkar runtuh perlahan lahan, dimulai dengan kalahnya jago mereka dari Jokowi.  Kemudian tidak begitu sukses dengan koalisi di parlemen walaupun hampir seluruh alat kelengkapan mereka kuasai. Ujian pertama ketika Agung Laksono menggoyang kepemimpinannya. Dan hasrat bersatu yang berseberangan, memantapkan Aburizal untuk melihat dari jauh, karena orang-orangnya mengendalikan kepeimpimpian yang telah ditinggalkannnya.


Golkar terkenal piawai bermain dalam kekuasaan. PDIP tak berhasil mengucilkan Golkar dan justru Golkar jadi sekutu utama dalam membangun koalisi.  Jokowi sendiri juga tahu berhitung kekuasaan. Ia perlu membuat kekuatan penyeimbang, sehingga ia “dipaksa” menerima agenda PDIP ia masih punya kekuatan untuk mengadakan bargaining.  Golkar betul-betul membuat PDIP pusing tujuh keliling.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar