JOKOWI
GAGAL UPAYAKAN ATASI KEMISKINAN
hasil Survey dari
Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) Juli 2016: Jokowi masih dipercaya tetapi banyak hal juga yang harus di lakukan
Jokowi, atau dalam bahasa negatifnya : Jokowi masih banyak gagal.
Memasuki
tahun 2016, kabinet Jokowi begitu optimis dapat mengatasi problem kemiskinan. Angka
kemiskinan diupayakan merosot sampai 9 sampai 10 persen, gini rasio 0,39
persen, angka pengangguran berkurang
hingga menjadi 5,2 persen. Sementara tingkat kemiskinan di APBN 2015 lalu
dipatoh 10,5 persen.
Pemerintah
melakukan program unggulan untuk mengatasi persoalan seperti itu seperti
mengurangi beban penduduk miskin, bantuan tunai bersyarat atau Program Keluarga Harapan ( PKH), Penyediaan Kartu Keluarga Sejahtera, perbaikan penyaluran Beras untuk penduduk
miskin, penyediaan layanan kesehatan bagi
Penduduk kurang mampu lewat Kartu
Indonesia Sejahtera (KIS).
Rahma
Iriyanti, Deputi Bidang Kemiskinan dan
Ketenagakerjaan dan UMKM Bappenas mengatakan bahwa Stragegi lain pembangunan
masyarakat desa di 499 kecamatan, pemberian mahasiswa kepada 75 .000 mahasiswa, 221.000 mahasiswa dalam
program bidik misi, 25.000 mahasiswa on
going Perguruan Tinggi Swasta,
pembangunan perumahan dengan target membangun 550.000 rumah susun.
Hasil
survey terbaru oleh Saiful Mujani Research and
Consulting Research ( SMRC) yang
dirilis akhir Juli 2016
memberi catatan negatif untuk Jokowi dalam hal bahwa lebih enam puluh persen penduduk merasa
lebih berat dalam menggapai kebutuhan pokok,
55 persen penduduk merasa orang miskin lebih banyak, enam puluh enam persen responden
kecewa pada pemerintah karena gagal menyediakan lapangan pekerjaan bagi
masyarakat. Kesimpulan dari survey yang
dilakukan SMRC yang belum menggembirakan bagi pemerintahan Jokowi adalah :
Memenuhi kebutuhan pokok hari ini lebih berat daripada tahun lalu, mencari
kerja juga terbilang sulit, pembangunan
dan kesejahteraan juga terbilang belum merata. Tapi anehnya, kebanyakan responden sangat puas dengan
kinerja pemerintahan Jokowi.
Menarik
untuk disimak, mengapa program yang telah dicanangkan belum berdampak secara
signifikan. Sebetulnya jawaban responden
tidak jauh dengan fakta yang ada. Banyak pihak mengatakan bahwa pemerintah
dinilai gagal dalam merealisasikan target pembangunan di dalam Anggaran
Pendapatan dan Belanja Negara Perubahan ( APBN P). Semua asumsi makro ekonomi meleset. Bahkan angka
kemiskinan bertambah pada triwulan
pertama 2015, dengan tambahan jumlah orang miskin menurut BPS 860 ORANG. Walau kita perlu realistis juga bahwa di era
SBY turut menyumbnag angka kemiskin karena kenaikan angka gini rasio yang
signifikan dari 0,35 ke 0,42 persen.
Maka
wajar saja kalau ada kesenjangan antara
yang dirasakan masyarakat dan asumsi pemerintah bahwa kemiskinan telah turun. Hal
itu bisa terjadi juga disebabkan ada perbedaan basis data angka kemiskinan dari
masing-masing instansi yang bisa membingungkan pemerintah. Badan Pusat
statistik menyebut orang miskin berjumlah 28 Juta jiwa, sementara menurut BPJS
88,2 juta jiwa. Sementara Asumsi pemerintah dalam APBN
dan APBD sebanyak 11,5 juta jiwa. Sementara lebih aneh lagi angkar
raskin dari Bulog hanya 15,5 juta jiwa.
Ternyata data juga punya kepentingan.
Jokowi
juga belum punya program pengentasan kemiskinan
yang jauh lebih hebat dari SBY.
Upaya SBY dalam mengatasi kemiskinan terbilang sukses seperti seperti Bantuan
Langsung Tunai (BLT), Program beras untuk rakyat miskin, Program Keluarga Harapan (PKH), Program Nasional Pemberdayaan
Masyarakat (PNPM), serta program perumahan masyarakat. Tetapi, Jokowi
pantas melanjutkan apa yang baik di masa SBY seperti PNPM,walau Jokowi Jk juga
memiliki program yang relatif hampir
sama, hanya beda nama. Jokowi juga
berkomitmen meneruskan pembangunan 1 juta unit hunian pertahun dan menargetkan
swasembada pangan, jokowi juga mengeluarkan kebijakan kompensasi atas
penyesuaia harga BBM berupa paket kartu sakti. Kartu Indonesia Pintan ( KIP),
Kartu Indonesia Sehat ( KIS) Juga Kartu keluarga Sejahtera KKS.
Oleh karenya Jokowi tidak sekedar memperhatikan hal-hal makro
tetapi juga memperhatikan hal mikro dan real sebagai kebutuhan masyarakat.
Jokowi juga harus segera melaksanakan programnya untuk memperkecil ketimpangan
antara orang kaya dan orang miskin, antara satu daerah dengan daerah yang lain.
Yang paling menggerogoti program yang baik adalah melambungnya
harga sembako, oleh karenanya Jokowi memastikan bahwa sistem yang ia bangun
berjalan, bukan dengan cara membagi sembako. Pemerintah juga dapat menggunakan
instrumen yang ada agar bantuan yang selama ini dikucurkan kemasyarakat tepat sasaran. Dana Desa hendaknya bisa
mengangkat ekonomi pedesaan. Yang selama ini terjadi, Dana desa belum mampu
menjadikan perluasan lapangan pekerjaan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar