Rabu, 20 Juli 2016

MENIKMATI BERITA BOHONG

Saya harap anda belum lupa dengan Obor rakyat, saat  masa kampanye presiden  melepas peluru kebohongan. Tetapi dengan berjalannya waktu, kebohongan itu terbongkar. Tetapi kebohongan yang terlanjur menyebar membuat mengkoreksinya susah, apalagi orang yang kadung percaya dengan berita hoax itu. Ketika berbicara berita bohong jangan bicara normatif,  cara sama pentingnya dengan tujuan.
Mungkin dalam dua puluh tahun terakhir ini banyak pergeseran di bidang informasi. Media cetak tidak lagi dominan. Peranan media cetak telah digantikan media digital, kontrol media cetak lebih mudah ketimbang media digital. Dan banyak orang kini terlibat dalam pemberian informasi ketika dunia viral menyebarkan tsunami informasi.  Orang boleh mengirim informasi apapun lewat media sosial, malangnya tidak semua informasi itu benar, atau dari sumber yang benar. Cukup dengan mengatakan sebuah sumber  terpercaya mengatakan...dan diposting ke publik jadilah informasi disebar ke penjuru dunia  bahwa berita itu benar atau tidak, etis atau tidak itu nomor sekian.
Mbakro.com pernah merilis berita tentang lima seperti Pada bulan Oktober 2015,   Portal Independen ( UK) merilis berita sensasional, yakni   “ Awan Tebal melayang di Cina,  menampakkan bayang kota yang mengapung. Versi You tube dan  TV lokal dari berita itu juga muncul. Kontan saja berita ini menghebohkan dan berefek dikunjunginya oleh lebih sejuta pengunjung pada kanal “paranormal Crucible. “ yang membuktikan bahwa ada alien di bumi. “
Berita hoax lainnya adalah soal pengungsi Timur Tengah yang membanjiri Eropa pada tahun 2015. Moment tersebut digunakan jurnalis nakal untuk mendeskriditkan mereka, dengan menukar peristiwa protes kaum sayap kanan di Jerman yang berlangsung pada th 2012 seolah kaum pengungsi yang ditunggangi ISIS pada tahun 2015 di Jerman. Pemelintiran berita juga terjadi karena ulah Website Thuglive Video yang gemar dengan berita bohong, dimana seolah ISIS dan gembong Narkoba El Chapo dari Mexico, saling bersitegang. Berita hoax itu juga dilansir New York Post dan The Washington Post. Kalau berita itu benar adanya tentu, akan meringankan AS karena dua musuh terbesar Amerika itu saling bertempur satu sama lain. Sayangnya berita itu berita bohong.
Sayangnya media sekuat The Sun ikut-ikutan buat hoax, ketika menurunkan wartawan investigatifnya, Emile Ghessen yang berhasil menyeberangi beberapa negara sekaligus tanpa paspor hanya menumpang kereta api barang setelah melewati Turki dan Kroasia sebelum ke Jerman. Setelah diinvestigasi, ternya yang dilakukan Emile adalah kebohongan.
Memproduksi kebohongan sebagai berita membuat kebenaran sebagai sesuatu yang mahal.  Ivan Turgenev pernah menulis ke Leo tolstoy, ia mengatakan bahwa kebenaran itu seperti seekor kadal, ia akan meninggalkan ekornya di jari-jari anda  dan lari karena tahu benar bahwa  akan tumbuh ekor yang baru dalam waktu sekejab.
Mengerikan juga akan pengakuan Ryan holiday, seorang manipulator media bahwa banyak jurnalis yang tak mau bersusah payah mengupdate sebuah berita palagi menulis ulang sebuah berita yang isinya sesuai fakta yang baru, mereka sekedar kopi paste. Dunia digital kontemporer memungkinkan melakukan aktifitas seperti itu.
Kata Ryan, ketika  kita melihat “breaking news” atau “ Kami akan memberikan detail lebih lanjut begitu ada perkembangan baru” ketahuilah bahwa apa yang anda baca terlalu cepat sampai ke tangan anda. Tidak ada menunggu untuk melihat perkembangan, tidak ada upaya konfirmasi, tidak ada perdebatan internal bahwa berita itu penting. Tidak cek and ricek. Tak ada jaminan anda memperoleh berita sampah.

Oleh karena penting bagi kita untuk dapat menimbang apakah sebuah berita itu bohong ataukan memang punya nilai berita.                             

Tidak ada komentar:

Posting Komentar