MENIKMATI
BERITA BOHONG
Saya
harap anda belum lupa dengan Obor rakyat, saat
masa kampanye presiden melepas
peluru kebohongan. Tetapi dengan berjalannya waktu, kebohongan itu terbongkar.
Tetapi kebohongan yang terlanjur menyebar membuat mengkoreksinya susah, apalagi
orang yang kadung percaya dengan berita hoax itu. Ketika berbicara berita
bohong jangan bicara normatif, cara sama
pentingnya dengan tujuan.
Mungkin
dalam dua puluh tahun terakhir ini banyak pergeseran di bidang informasi. Media
cetak tidak lagi dominan. Peranan media cetak telah digantikan media digital,
kontrol media cetak lebih mudah ketimbang media digital. Dan banyak orang kini
terlibat dalam pemberian informasi ketika dunia viral menyebarkan tsunami
informasi. Orang boleh mengirim
informasi apapun lewat media sosial, malangnya tidak semua informasi itu benar,
atau dari sumber yang benar. Cukup dengan mengatakan sebuah sumber terpercaya mengatakan...dan diposting ke
publik jadilah informasi disebar ke penjuru dunia bahwa berita itu benar atau tidak, etis atau tidak
itu nomor sekian.
Mbakro.com
pernah merilis berita tentang lima seperti Pada bulan Oktober 2015, Portal
Independen ( UK) merilis berita sensasional, yakni “ Awan Tebal melayang di Cina, menampakkan bayang kota yang mengapung. Versi
You tube dan TV lokal dari berita itu
juga muncul. Kontan saja berita ini menghebohkan dan berefek dikunjunginya oleh
lebih sejuta pengunjung pada kanal “paranormal Crucible. “ yang membuktikan
bahwa ada alien di bumi. “
Berita hoax lainnya adalah soal pengungsi Timur
Tengah yang membanjiri Eropa pada tahun 2015. Moment tersebut digunakan
jurnalis nakal untuk mendeskriditkan mereka, dengan menukar peristiwa protes
kaum sayap kanan di Jerman yang berlangsung pada th 2012 seolah kaum pengungsi
yang ditunggangi ISIS pada tahun 2015 di Jerman. Pemelintiran berita juga
terjadi karena ulah Website Thuglive Video yang gemar dengan berita bohong,
dimana seolah ISIS dan gembong Narkoba El Chapo dari Mexico, saling
bersitegang. Berita hoax itu juga dilansir New York Post dan The Washington
Post. Kalau berita itu benar adanya tentu, akan meringankan AS karena dua musuh
terbesar Amerika itu saling bertempur satu sama lain. Sayangnya berita itu
berita bohong.
Sayangnya media sekuat The Sun ikut-ikutan buat
hoax, ketika menurunkan wartawan investigatifnya, Emile Ghessen yang berhasil
menyeberangi beberapa negara sekaligus tanpa paspor hanya menumpang kereta api
barang setelah melewati Turki dan Kroasia sebelum ke Jerman. Setelah
diinvestigasi, ternya yang dilakukan Emile adalah kebohongan.
Memproduksi kebohongan sebagai berita membuat
kebenaran sebagai sesuatu yang mahal.
Ivan Turgenev pernah menulis ke Leo tolstoy, ia mengatakan bahwa
kebenaran itu seperti seekor kadal, ia akan meninggalkan ekornya di jari-jari
anda dan lari karena tahu benar
bahwa akan tumbuh ekor yang baru dalam
waktu sekejab.
Mengerikan juga akan pengakuan Ryan holiday,
seorang manipulator media bahwa banyak jurnalis yang tak mau bersusah payah
mengupdate sebuah berita palagi menulis ulang sebuah berita yang isinya sesuai
fakta yang baru, mereka sekedar kopi paste. Dunia digital kontemporer
memungkinkan melakukan aktifitas seperti itu.
Kata Ryan, ketika kita melihat “breaking news” atau “ Kami akan
memberikan detail lebih lanjut begitu ada perkembangan baru” ketahuilah bahwa
apa yang anda baca terlalu cepat sampai ke tangan anda. Tidak ada menunggu
untuk melihat perkembangan, tidak ada upaya konfirmasi, tidak ada perdebatan
internal bahwa berita itu penting. Tidak cek and ricek. Tak ada jaminan anda
memperoleh berita sampah.
Oleh karena penting bagi kita untuk dapat
menimbang apakah sebuah berita itu bohong ataukan memang punya nilai berita.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar