HABIS
VIRUS PALSU BPJS PALSU MUNCUL
Entah
kutukan apa untuk negeri ini. Belum lagi virus palsu hilang, BPJS palsu
terbit. Kartu BPJS palsu muncul di
Padalarang, Kabupaten Bandung Barat, jawa Barat. Masih sulit ditebak, tapi
kartu BPJS palsu itu jatuh ke tangan
orang miskin, maka ada penderitaan ganda untuk rakyat miskin, BPJS nya tak bisa
dipakai, padahal ia sudah berharap banyak. Penderitaan yang lain adalah ia
harus membayar untuk bungkusan kosong,
karena tak bisa digunakan. Tidak usah dikatakan, bahwa terjadi pengawasan yang
lemah. Atau mungkin sang pemalsu jauh lebih cerdas.
Cerdasnya
sang penipu ia menggunakan nama Rumah Peduli Duafa untuk mengelabui calon
korbannya. Terkait hal itu, Polisi Resor
Cimahi Jabar sudah memeriksa
lebih sepuluh saksi, dan Koordinator lembaga
Pemberdayaan Masyarakat Rumah Peduli Duafa (LPM RPD), sebagai
tersangka pemalsuan.
Kartu
JKN atau yang kita kenal sebagai BPJS secara bertahap bersalin nama menjadi Kartu
Indonesia Sehat.
LPM
RPD selama ini sering melakukan
pendampingan kesehatan dan pendidikan. Mungkin saking antusiasnya ingin
membantu orang miskin, entah motivasi uang, mereka menerbitkan kartu JKN
terhitung mulai juli 2015. Ada sekitar 800 orang mengurus kartu JKN pada
mereka, tapi baru tergarap 175 kartu dan mereka keburu keciduk polisi. Warga yang
berusaha menggunakan kartu yang ongkos pembuatannya Cuma Rp 100.000,- hanya sekali bayar. Tetapi ketika
mau digunakan tak bisa.
Tentu
saja biaya seringan itu menggiurkan tapi
penuh jebatakan karena untuk kelas tiga saja peserta BPJS harus mengeluarkan Rp
25.500,- sedangkan untuk kelas II Rp51.000,- dan Rp 80.000,- untuk kelas I. Tetapi
BPJS termasuk hal baru,dan banyak warga
yang belum terbisasa mengurusnya, sehingga sering minta pihak ketiga untuk
mengurus, dan ketidakpahaman mereka telah disalahpahami. Jangankan mereka yang
menggunakan kartu BPJS palsu yang tak terdaftar di falisitas kesehatan yang
ada, pemegang kartu BPJS yang asli tapi tak rutin membayar pun, kartu
keanggotaannya akan non aktif.
BPJS
tampaknya perlu kerja keras lagi untuk mensosialisasikan program ini. Menurut Guru Besar
Fakultas kedokteran Universitas Gajah
Mada Laksono Triasnantoro Kepada
Kompas, mengatkan mudahnya masyarakat tertipu dengan iming-iming biaya
lebihmurah untuk mendaftar JKN menunjukkan budaya asuransi belum terbangun
masyarakat. Masyarakat belum terbiasa membeli resiko, kata laksono.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar