Selasa, 26 Juli 2016

HABIS VIRUS PALSU BPJS PALSU MUNCUL

Entah kutukan apa untuk negeri ini. Belum lagi virus palsu hilang, BPJS palsu terbit.  Kartu BPJS palsu muncul di Padalarang, Kabupaten Bandung Barat, jawa Barat. Masih sulit ditebak, tapi kartu BPJS  palsu itu jatuh ke tangan orang miskin, maka ada penderitaan ganda untuk rakyat miskin, BPJS nya tak bisa dipakai, padahal ia sudah berharap banyak. Penderitaan yang lain adalah ia harus membayar  untuk bungkusan kosong, karena tak bisa digunakan. Tidak usah dikatakan, bahwa terjadi pengawasan yang lemah. Atau mungkin sang pemalsu jauh lebih cerdas.
Cerdasnya sang penipu ia menggunakan nama Rumah Peduli Duafa untuk mengelabui calon korbannya. Terkait hal itu, Polisi Resor   Cimahi  Jabar sudah memeriksa lebih sepuluh saksi, dan Koordinator lembaga  Pemberdayaan  Masyarakat  Rumah Peduli Duafa (LPM RPD), sebagai tersangka pemalsuan.

Kartu JKN atau yang kita kenal sebagai BPJS secara bertahap bersalin nama menjadi Kartu Indonesia Sehat.
LPM RPD  selama ini sering melakukan pendampingan kesehatan dan pendidikan. Mungkin saking antusiasnya ingin membantu orang miskin, entah motivasi uang, mereka menerbitkan kartu JKN terhitung mulai juli 2015. Ada sekitar 800 orang mengurus kartu JKN pada mereka, tapi baru tergarap 175 kartu dan mereka keburu keciduk polisi. Warga yang berusaha menggunakan kartu yang ongkos pembuatannya Cuma  Rp 100.000,- hanya sekali bayar. Tetapi ketika mau digunakan tak bisa.

Tentu saja biaya seringan itu menggiurkan  tapi penuh jebatakan karena untuk kelas tiga saja peserta BPJS harus mengeluarkan Rp 25.500,- sedangkan untuk kelas II Rp51.000,- dan Rp 80.000,- untuk kelas I. Tetapi BPJS termasuk  hal baru,dan banyak warga yang belum terbisasa mengurusnya, sehingga sering minta pihak ketiga untuk mengurus, dan ketidakpahaman mereka telah disalahpahami. Jangankan mereka yang menggunakan kartu BPJS palsu yang tak terdaftar di falisitas kesehatan yang ada, pemegang kartu BPJS yang asli tapi tak rutin membayar pun, kartu keanggotaannya akan non aktif.

BPJS tampaknya perlu kerja keras lagi untuk mensosialisasikan program ini. Menurut Guru  Besar  Fakultas kedokteran Universitas Gajah  Mada  Laksono Triasnantoro Kepada Kompas, mengatkan mudahnya masyarakat tertipu dengan iming-iming biaya lebihmurah untuk mendaftar JKN menunjukkan budaya asuransi belum terbangun masyarakat. Masyarakat belum terbiasa membeli resiko, kata laksono.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar