SELAMAT TINGGAL KABINET GADUH
Kalau kita membandingkan kabinet yang sekarang
dengan kabinet sebelum resufle terakhir
dengan kabinet hasil resufle, maka keadaan sekarang ini relatif agak t enang.
Mungkinkah ini karena fokus kabinet sekarang masih pada Tax Amnesti, sehingga seluruh kabinet
terkonsentrasi kesana.
Di waktu lalu kabinet sering heboh. Bisa
dikaitkan dengan sang presiden yang tak mampu membangun kedispinan dalam
kabinet. Sebelumnya kita melihat
pertengkaran berkepanjangan paa mentri
misalnya soal listrik 35.ooo MW, impor beras, pesawat Garuda Indonesia, Kilang
cepat hinggal ladang blok Masela. Tentu saja itu pertanda bahwa tidak bekerjanya hirarki kekuasaan dalam rezim, hingga garis komando saling bertabrakan.
Orang pun menduga, apakah
apakah presiden kita kurang kekuasaanya dan tak mampu otoritas yang dipunyainya padahal dia
mempunyai kekuasaan yang sah dalam memerintah dan melarng, menertibkan dan
mendisiplinkan. Inilah yang menyebabkan
kegaduhan selama ini. Untunglah Presiden menyadari ketidaknormalannya
kekuasaanya itu.
Banyak yang menyadari bahwa Jokowi bukanlah
pemimpin yang karismatik dan belum mampu membangun karisma melalui tindakan nyata artinya beliau belum mampu
mengubah kekuasaan simbolik menjadi kekuasaan nyata.
Pegantian kabinet perlu dibaca sebagai upaya
meyakinkian banyak orang bahwa Jokowi
punya jawaban untuk mengakhiri
keabnormalan kekuasaan yang. Ia mesti punya tongkat komando yang jelas, walau
tampaknya tak sepenuhnya berhasil. Matahari ini seperti memiliki matahari
kembar dan Jokowi belum berani untuk
mengakhiri. Hal itu tampak dalam dipilihnya Komjen Budi Gunawan menjadi ketua
Badan Intelijen Negara.
Jokowi punya masalah fundamental, yakni
mengangkat kapasitas , hierarki dan distribusi
kekuasaan. Hal itu tampak dalam hal antara laini ia gagal menciptakan kepatuhan dan ketidak disiplinan dan tak mampu
mendayagunakan kemampuan
kekuasaannya. Padahal banyak yang
mendorong agar dia agar dia dapat
melepaskan dari partainya terutama ketua
umumnya.
Kedua, ia seperti punya kesulitan untuk membangun hierarki kekuasaan
yang mendorong permainan
kekuasaan di aneka lapisan sub ordinat.
Ketiga, ia juga tak mampu membangun
distribusi kekuasaan proporsional
sehingga kekuasaannya tak bekerja berjenjang..
Tidak mudah bagi Jokowi mengubah mengubah
karisma yang ada pada dirinya untuk diterjemahkan dalam praksis demokrasi modern praktek yang selama ini cenderung
bersifat hierarkis, dari garis komando
Top dwon, meski dalam prinsip formal kekukasaan bersifat dari bawah ke atas,
yaitu prinsip kekuasaan dari rakyat. Hierarki kekuasaan semacam ini menjamin
berlangsungnya garis komando yang jelas, berjenjang dan sistemik yaitu siapa memerintah siapa ( Boulding).
Hal ini berbeda dengan sistem demokrasi “ Post
modernisme” dimana relasi kekuasaan bersifat non hierarki, heterogen dan tak terpusat, yang memungkinkan pertanyaan
terbuka untuk mendapatkan hegemoni
kekuasaan. Kondisi ini dimungkinkan karena kekuasaan ada dimana-mana dan rezim kekuasaan dibangun oleh multiplisitas realsi kekuasaan yang di
dalamnya tak ada satupun kekuasaan yang stabil ( foucault, 1984 ).
Jadi kalau benar Jokowi menerapkan sistem post
modernisme dalam mengelola kekuasaan
berarti bahwa pengelolaan itu dilandasi
oleh relasi kekuasaan non hierarkis, tak terpusat dan heterogen, , multisiplisitas sumber kekuasaan dimana kekuasaan dapat
dimiliki siapapun dalam posisi apapun, dan distribusi kekkuasaan yang dinamis
dan non proporsional, yang memungkin
pemerintah datang dari manapun.
Tetapi perlu diingat bahwa kekuasaan post
modernisme memerlukan kecanggihan
pengetahuan, kemampuan retorika, dan
kelihaian berdebat dan kekuatan karisma dalam pertarungan mendapatkan hegemoni
dan berhadapan lawan yang legitimated ( adversary) yang eksistensinya diakui,
tetapi pandangannya dilawan (mouffe, 1993). Sayangnya yang selama ini bertarung
justru antar sesama anggota kabinet.
Disinilah kontradiksinya, karena penampilan
Jokowi yang santun dan tenang bukanlah cocok untuk tipe post modernisme yang
non hierarkis, tak terpusat, heterogen dan non proporsional. Sistem kepemimpinan yang post modernisme yang cocok adalah pribadi Soekarno atau Ali
Sadikin atau kalau tokoh di jaman ini adalah Ahok.
Maka yang dibutuhkan Jokowi saat ini adalah :
1. Perlu
membangun sisi karismatis yang perlu dikembangkan, agar ia diikuti dengarkan
dan dipatuhi para bawahannya.
2. Jokowi
harus memperkuat orang orang yang loyal padanya tapi punya karisma. Luhud
sebetulnya bisa memainkan peran seperti ini, karena ia senior di militer dan lama berkecimpung di dunia swasta
dan punya pengalaman di luar pemerintahan. Jadi tokoh yang demikian bisa
seperti Ali Murtopo pada zaman
Suharto. Tetapi posisi seperti itu
bukannya tanpa syarat, karena ia haruslah bukan seorang partisan.
3. Jokowi
harus banyak berkomunikasi dengan rakyat. Ia harus lebih banyak menyapa rakyat
dan lebih membuka telinga apa sih yang diamaui rakyat.
Dengan cara seperti itu maka
Jokowi dapat membangun kekuasaan. Apakah kita tunggu, karena kabinet
yang dirombak juga belum lama.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar