KEMENANGAN TRUPH BISA MENJADI UJIAN PLURALISME
DI AS
Pemilihan presiden Amerika Serikat yang akan
digelar 20 November 2016 diikuti oleh dua kontestan yang dianggap tidak
populer. Hillary dianggap tidak disukai oleh kalangan partai demokrat.
Demikianpun Trumph juga mempunyai banyak pembenci. Bahkan Trumph dianggap
presiden yang paling tak populer dikalangan non kulit putih sejak Barry Goldwater di tahun 1965. Tingkat ketidaksukaan pemilih pada Trump dan
Hillary hampir seimbarng, 60 persen
Trumph dan 55 persen untuk Hillary. Tapi justru karena penampilan Donald Trumph
yang "memuakkan" itulah yang membuat pemilu presiden kali ini tetap riuh. Yang sedikit
lucu adalah pembenci Trumph ada
mengidolakan Hillary dan sebaliknya.
Trumph adalah calon Presiden yang menarik perhatian. Dia adalah
orang yang awam politik, tetapi super kaya. Pernyataan-pernyataannya yang tidak
peka seperti ingin menyetop imigran,
pernyataannya yang anti Islam adalah beberapa pernyataannya yang
kontroversial. Ketidakpekaaan itulah
yang membuat Barack Obama enggan
mendukungnya dan polling Hillary merangkak naik yang semula di bawah Trumph
kini mengimbangi bahkan melampaui, bahkan dalam debat terakhir Hillary dianggap
menang telak. Walau banyak pihak yang meragukan calon dari Partai Republik,
Donald Trumph akan memenangkan
kontestasi pemilihan Presiden atas calon dari partai Demokrat, Hillary Clinton,
tetapi temperamen calon Donald Trumph yang sulit diramalkan membuat pemilihan
presiden Amerika cukup menarik hari demi hari.
Donald Trumph adalah pengusaha besar dan belum
pernah memegang jabatan publik. Ia
mengaku tak begitu paham politik lagi
pula ia memang minim pengalaman politik, ini
yang membuat para pendukungnya cukup was was. Tetapi kepiawaiannya untuk
berbicara kepopulerannya dalam reality show membuat ia begitu populer. Polling pemilih menunjukkan grafik yang naik
turun, antara Hillary dan Trumph. Ini
cukup mencengangkan mengingat ada
sentimen negatif tentang Trumph. Ia
tidak disukai karena sikapnya yang eksklusif dan berubah-ubah, juga
kekbohongannya selama kampanye. Jaringan
televisi NBC pernah menerbitkan daftar 117
kebohongan dan pemutarbalikkan
posisi sejak ia memulai kampanye
Juni 2016. Termasuk keinginannya untuk
mendeportasi 11 juta imigran yang sudah lama tinggal di AS, pajak dan
kebijaksanaan ekonomi, posisi aborsi yang berbalik tiga kali sehari, dan
menuduh Obama bukan kelahiran Amerika ( Wimar Witoelar, 9 Sept. 2016).
Dari sisi popularitas, Trump lebih unggul. Wajahnya lebih banyak ditonton di
televisi. Bisa dibandingkan dengan
kepopuleran Maddona di masa jayanya. Donald Trump mampu menggunakan televisi
dan media sosial untuk mendongkrak popularitasnya. Trumph menggunakan twitter untuk mendongkrak
keterkenalannya hanya dengan 140 karakter.
Menurut Wimar Witoelar, ucapan Trumph itu asik
didengar, lepas dari setuju atau tidaknya kita, itulah alasannya ia mendapat
liputan media. Ia hampir tidak
mengeluarkan uang untuk liputan TV atau iklan. Isi ucapannya membingungkan dan
tidak masuk akal tapi anehnya orang tidak ambil pusing. Kalau ia terpilih
memang ia bisa sekontroversial presiden Philipina. Ucapannya yang salah justru ditunggu oleh
media, dan kalau salah ia dengan enteng akan mengoreksi ucapannya dalam
kesempatan pertemuan sebelunya.
Dan tampaknya Trumph sadar akan kepopulerannya.
Ia tak butuh kocek lebih besar untuk kampanye, karena media sudah bermurah hati
untuk meliputnya. Mungkin dari sedikit yang diharapkan dari Trumph adalah
karena ia begitu terang-terangan, ia
akan secara terbuka lobi-lobi Washington
yang berusaha mendekatinya.
Karakter
ini yang membedakan dengan Hillary.
Hillary menguasai dukungan
orang terpelajar dan orang hitam. Dua koalisi ini disebut-sebut menjadi penentu
kemenangan Obama ata John Mc Cain (2008) dan Mitt Romney (2012). Keduanya, memang dianggap dua kandidat yang tidak
populer di kalangan pemilih. Para pemilih tidak begitu “happy” dengan dua calon
presiden mereka, mereka kawatir keduanya bisa menimbulkan kesalahan fatal yang
berdampak kepada mereka. Lima puluh
persen lebih pemilih Amerika menkawatirkan hal itu jika Trumph terpilih,
sementara ketakutan yang sama juga terjadi jika Clinton terpilih, 44 persen.
Kalau NBC mengatakan bahwa Trumph pembohong dan
mencatat jumlah kebohongannya, Hillary
pun pernah diragukan kejujurannya, berkaitan dengan penggunaan server pribadi untuk urusan dinas selama jadi menlu,
kerancuan antara Clinton Foundation dan
urusan negara serta kesehatan pribadinya. Iapun harus hati-hati agar kejadian
masa lalu ketika pollingnya menurun gara-gara dianggap melecehkan pendukung
Trumph yang dianggapnya mengidap deporable dan terserang pneumonia ringan.
Hillary
akan menjadi penerus Obama sebagai presiden berturut-turut dari Partai demokrat kalau ia memenangkan
pertarungan. Hillary delapan tahun lalu kalah tipis dari Obama di pemilihan pendahuluan dari partai
demokrat, sehingga Obama menjadi presiden dari partai demokrat pertama sejak 44
tahun sebelumnya.
Menarik
untuk ditunggu, apakah Donald Trumph dengan kepopuleranya ataukah Hillary yang
dianggap mewakili generasi lalu yang
mengndalkan rekam jejak, kecerdasan dan kekuatan konsep.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar