Jumat, 02 September 2016

SEJARAH KEMERDEKAAN INDONESIA: HASIL PERJUANGAN ATAU DIPLOMASI

Tanggal 19 Desember 1948 Belanda memasuki kota Yogyakarta dengan dengan persenjataan lengkap lewat operasi yang dipimpin oleh jendral Spoor yang dikenal  sebagai operasi Krai, atau operasi kilat  yang salah sifatnya adalah dadakna, pada waktu itu TNI dengan panglimanya  Sudirman sebetulnya  sudah nyaris berhasil meloloskan  para pemimpin Republik  yang waktu itu ada di istana presiden, Gedung Agung sekarang, yang ada di Yogyakarta.  Tapi Soekarno lebih senang menegakkan Bendera putih  di depan istana dan dijadikan oleh Belanda sebagai tahanan politik.

Sudah  lama ada strategi berseberangan antara TNI yang ngotot menggunakan cara perang dan para pemimpin Republik yang  lebih menyukai diplomasi. Setelah para pemimpin republik ditahan, TNI meneruskan perjuangan senjata dan bagi TNI perjuangan bersenjata tak bisa dihilangkan begitu saja. Dan TNI  ingin menunjukkan kepada Belanda bahwa masih ada perjuangan bersenjata, dan itu didengar sampai Dewan Keamanan PBB. Sehingga kalau  Belanda menganggap  kehadiran TNI sebagai aksi polisionel sulit dipahami oleh banyak bangsa. Jadi  boleh dikatakan perjuangan diplomasi hanya efektif jika juga secara bersamaan ada perjuangan bersenjata.

Pemimpin TNI  terlebih Sudirman sangat jengkel kepada pemimpin Belanda yang menganggapnya TNI sudah tidak ada.  Apakah ini suatu kegagalan TNI ? tentu saja tidak  presiden adalah simbol negara, kalau ia memenuhi permintaan Sudirman ( untuk tidak menyerah ), apakah Belanda mau berunding, malahan mungkin ia sudah dibunuh dan belum  tentu juga Republik Indonesia  dikembalikan, jadi pada saat  yang sama, militer membutuhkan diplomasi.
Lalu bagaimana dengan BFO, negara-negara bagian yang dibentuk Belanda, apakah  mereka adalah sekutu yang baik bagi  Belanda, karena untuk menuruti yang dikehendaki Belanda ada sesuatu yang dipertaruhkan yakni nasib bangsa. Maka wajar kalau memreka diam-diam datang ke tempat pengasingan Soekarno di Bangka akibatny, BFO tidak mematuhi Belanda, dan sebelum sampai tahap yang begitu menentukan , tetap mengharapkan agar pemimpin  Republik  yang dipersonifikasikan Soekarno dan Hatta harus diikutsertakan dalam perundingan.


Nah ketika  Belanda terdesak  oleh masyarakat Internasional  dan kehilangan sekutu di BFO (negara boneka ciptaan Belanda),  apalagi Belanda berkali-kali gagal memadamkan perlawanan tentara, maka tak ada pilihan lain  bagi Belanda  untuk segera memenuhi resolusi Dewan Keamanan PBB. Tidak hanya itu lebih jauh lagi  Belanda setuju dengan  rencana untuk diadakannya Konferensi Meja Bundar. Jadi tidak ada kemenang diplomasi tanpa peran militer.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar